On the way back home to Doha from umrah, we decided to take one night stay in Jeddah. Curious how the second largest city in Saudi Arabia looks like.
From our hotel we booked a shuttle transfer to Jeddah. We booked through an agent which office located just outside Al Marwa Hotel lobby. The cost is 250QR. The same arrangement can be made through hotel concierge as well for the same cost.
The agent sent us a driver who later turned out to be so annoying (I don’t want to elaborate more, but the agent up there is not recommended!)
With service from an Indonesian working as a travel agent staff in Jeddah, also a long time Jeddah resident, we were taken for city tour to different parts of the city and famous tourist sights.
We went to IKEA (yes, we are big fans of it! …and its meat balls) in the evening, then to King Fahd Fountain (unfortunately did not operate). The fountain is said to be the biggest salt water fountain of the world; it jets the water about 312 meters above the Red Sea. The fountain has been given as a present by King Fahd to the city Jeddah. At dawn or during nighttime is the best time to visit the fountain as it is lighted with 500 spotlights. We were also taken into driving along Tahlia Street, an important fashion and shopping street in the mid-town of Jeddah housing many upscale department shops and boutiques.
The following morning, we went to Floating Mosque, or White Mosque, or formal name Ar Rahmah Mosque, located just west of airport on the Red Sea Coast. It is called the floating mosque because when the tide is high it is surrounded by water giving the impression that the mosque is floating looked at from the Corniche.
You may notice that Hilton Hotel Mecca’s window is inspired by traditional ornament of the houses in Al Balad.
We were also taken to visit Tomb of Eve, execution yard, Bab Shareef, and Bab Al Makkah. Bab Al Makkah (Mecca Gate) is used to be one of the main entrances for Hajj pilgrims (through Old Mecca Road) before construction of Jeddah – Mecca Highway.
The cosmopolitan city of Jeddah is in fact a home for hundreds thousands Indonesian citizen, constitute one of the major expatriate community in Jeddah. We were taken to see specific areas in Jeddah (Al Sharafiya) where large concentrations of Indonesians are living. No wonder I saw so many Indonesian restaurant or specialty stores dotted the areas. How unfortunate we were that none of them ready to serve lunch!
A quick tour of Jeddah gives us a brief introduction to Jeddah’s life.
















mitch
March 2, 2012 at 9:25 pm
sir, what type of camera do you used in all of your pictures?
Wahyu Hidayat
March 2, 2012 at 11:34 pm
Hi, I use Canon G12.
Setan Kubur
April 14, 2012 at 6:22 am
Saya senang membaca dan melihat foto-foto yang anda pamerkan, tapi sayang anda sebagai TKI secara pribadi anda cuma berkicau kicau memamerkan kehebatan anda dan anda cuma cerita tentang komunitas TKI yang kerja di QG,QP tapi pernah anda terpikir untuk melihat dan prihatin sesama TKI dengan anda khususnya yang bekerja di bandara DOha sebagai pekerja sipil dan TKW yang mendapat perlakuan tidak layak? anda hanya bercerita kehebatan anda dan berkicau kicau dan pamer pamer foto, coba kalau anda jadi pekerja kayak TKI yang bernasib malang mungkin anda akan melolong lolong cepat minta pulang ke Indonesia, Wahyu merunduklah….lihat kebawah orang akan ber asumsi kamu tukang pamer.
Wahyu Hidayat
April 16, 2012 at 8:05 pm
Wahyu Hidayat
Assalamualaikum.
Pak Setan Kubur yang terhormat, terima kasih telah membaca blog saya. Sayang sekali Bapak tidak membaca keseluruhan blog saya sehingga cepat mengambil kesimpulan untuk mengatakan saya adalah katak dan bisanya cuma berkicau. Untungnya tempurung saya besar sehingga saya cukup tahu dunia lainnya.Tapi, thanks anyway. Persepsi memang mudah terbentuk dari sekelebat interaksi. Sayangnya saya tidak menjalani hidup saya karena persepsi orang. Biarkan apa kata orang tentang hidup saya. Who are they judging my life? Asal saya hidup halal, tanggung jawab keluarga, ibadah dengan benar. Khalas…
Saya juga toh tidak perlu menceritakan segala keluhan dan kesulitan saya (buat apa? ketika saya memutuskan ke sini saya tahu baik dan buruknya hidup di Qatar, buat apa mengeluh tentang pilihan yang sudah diambil sendiri), saya juga tidak perlu menyanggah bahwa saya di Qatar cuman berkicau, dan saya tidak perlu pamer segala kebaikan yang saya lakukan di sini maupun buat keluarga di tanah air. Saya hanya berasumsi Bapak pernah tinggal di Qatar, pernah bersinggungan dengan rekan TKI lain, pernah mengunjungi camp mereka ketika mereka kesulitan, pernah terlibat kegiatan membantu mereka dan tahu benar betapa peliknya dan ruwetnya benang masalah TKI (coba tanya dari staf KBRI). Dan saya tidak perlu berkicau tentang hal2 ini.
Insya Allah, Allah senantiasa memberi kerendahan hati kepada saya.
Salam. Mengharapkan kunjungan Bapak senantiasa
Setan Kubur
April 16, 2012 at 4:34 pm
banyak cerita, coba lihat teman-teman mu sesama TKi yang bekerja di sektor non migas di Qatar kasihan mereka….sementara kamu cuman berkicau kicau pamer pelesiran dan foto2, maklom ibarat pepetah katak dibawah tempurung……
Wahyu Hidayat
April 16, 2012 at 7:59 pm
Assalamualaikum.
Pak Setan Kubur yang terhormat, terima kasih telah membaca blog saya. Sayang sekali Bapak tidak membaca keseluruhan blog saya sehingga cepat mengambil kesimpulan untuk mengatakan saya adalah katak dan bisanya cuma berkicau. Untungnya tempurung saya besar sehingga saya cukup tahu dunia lainnya.Tapi, thanks anyway. Persepsi memang mudah terbentuk dari sekelebat interaksi. Sayangnya saya tidak menjalani hidup saya karena persepsi orang. Biarkan apa kata orang tentang hidup saya. Who are they judging my life? Asal saya hidup halal, tanggung jawab keluarga, ibadah dengan benar. Khalas…
Saya juga toh tidak perlu menceritakan segala keluhan dan kesulitan saya (buat apa? ketika saya memutuskan ke sini saya tahu baik dan buruknya hidup di Qatar, buat apa mengeluh tentang pilihan yang sudah diambil sendiri), saya juga tidak perlu menyanggah bahwa saya di Qatar cuman berkicau, dan saya tidak perlu pamer segala kebaikan yang saya lakukan di sini maupun buat keluarga di tanah air. Saya hanya berasumsi Bapak pernah tinggal di Qatar, pernah bersinggungan dengan rekan TKI lain, pernah mengunjungi camp mereka ketika mereka kesulitan, pernah terlibat kegiatan membantu mereka dan tahu benar betapa peliknya dan ruwetnya benang masalah TKI (coba tanya dari staf KBRI)
Salam. Mengharapkan kunjungan Bapak senantiasa.
kombizz
May 18, 2012 at 4:49 pm
Assalamu Alikum
Nice reading your trip story.