Mendapatkan “Kaki” – Cerita Driving Test

“Full left…go…go…go…” Perintah dari seorang pegawai Karwa (yang menemani police) membuyarkan konsentrasiku melakukan pocket parking. Apa? Keluar? Padahal kan belum selesai? Apa aku nabrak tiang dan gagal? Oh my goodness. Tapi akhirnya aku turuti juga perintahnya. Segera ku parkir mobil di ujung jajaran cone, ambil berkas dan segera bergegas menemui Petugas Karwa dan Police.

“Am I failed?” tanyaku pada mereka dengan mimik tidak percaya. “No, no…you are a good driver, you pass!” “Where are you from Filipino, Indonesia?” “I am from Indonesia” “Siapa namamu?” dia membalas. “Ismi, Wahyu”. “Shukran”, kataku setelah menerima berkas yang sudah ditandatangani Police. Bukti bahwa lulus pocket parking test.

Ritual police test dimulai dengan meng-arrange transportation dari temporary accommodation ke Karwa. Bukan apa-apa, testnya dimulai jam 5 pagi. Sementara, taxi resmi belum tentu ada, dan minta tolong teman tentu saja tidak mengenakkan buat dia. Untunglah ada QPT-nya Aa Yana (telp: 5037847). Pas hari terakhir kursus, aku sudah order untuk minta dijemput. Jam 4 udah bangun, mandi, pake baju formal lengan panjang. Jam 4.17 telpon Aa Yana mastiin apa dia sudah berangkat. Meski agak terlambat sekitar 7 menit, QPT akhirnya dapat membawaku tepat sampai jam 5 di Karwa.

Pagi itu agak dingin banget, kabut menyelimuti halaman parkir, dan uap air keluar dari hembusan mulut. Begitu nyampe aku ambil berkas di Karwa Police Traffic Division, persis di sebelah Karwa Training Office. Aku lihat ada sekitar 40-50 orang yang ikut test hari ini. Selesai holat subuh di musholla Karwa, aku menunggu di dekat office tersebut.

Jam 5.40, petugas Karwa meminta semuanya berbaris satu lajur di depan office. Aku dapat urutan 4 dari belakang. Untungnya Traffic Sign test berlangsung cepat. Tidak sampai 15 menit semua peserta sudah menyelesaikan testnya. Di luar bayanganku, aku cuman ditanyai dua sign: No Entry for All Vehicles dan Intersection. Tidak ditanya arti garis dan marka jalan, meskipun dari peserta sebelumnya aku mendengar mereka ditanyai garis dan marka jalan.

Selesai sign test peserta diminta ke tempat pocket parking. Jalan kaki sendiri. Di situ sudah ada 2 mobil standby di dekat area pocket. Jam 6.10 peserta diminta berbaris satu lajur, lagi-lagi dapat urutan 5 dari belakang. Satu persatu petugas dan Police memanggil peserta. Banyak yang gagal di sini, mungkin antara 10-15 peserta. Kebanyakan gagal karena menabrak tiang di kiri depan, mati mesin, dan menabrak tiang belakang. Ada juga yang saking paniknya, sampai ngidupin wiper dan lupa ganti gigi maju sehingga menerabas tiang-tiang di belakang. Tapi ada juga, peserta yang terlihat menyenggol tiang belakang, tapi karena pas polisinya tidak melihat, dia masih lulus. Beruntunglah dia. Di tengah-tengah test datang lagi dua mobil sehingga test berjalan agak cepat.

Pocket Parking Test - Karwa
Pocket Parking Test - Karwa

Giliranku, Alhamdulillah berjalan lancar. Meskipun mobil sempet diparkir paralel agak jauh dari cones aku bisa memasukkan dengan benar dan cepat. Mungkin petugas melihat lancarnya aku memasukkan mobil ke dalam pocket sehingga belum sempat posisi sempurna di dalam kotak (masih full left mundur), petugas sudah menyuruh keluar.

Dalam kabut aku menunggu......
Dalam kabut aku menunggu......

Setelah semuanya selesai, jam 6.40 peserta diminta baris dalam dua barisan. Ternyata pesertanya bertambah lagi karena tambahan dari mereka yang gagal di road test hari-hari sebelumnya. Bersama 11 orang lainnya aku dibawa masuk ke minibus dan menuju ke Karwa. “No body goes outside ha…wait for my instraksiong…kata Filipino driver. Menunggu yang menjemukan karena aku terjebak selama 45 menit dalam bus ini.

Jam 7.35 minibus bergerak di belakang mobil yang dipakai road test. Di dalam road test sendiri ada dua orang dan satu police. Setelah kira-kira 4-5 orang, aku dapat giliran. Pas aku duduk di bangku belakang, peserta di depanku – yang kemudian ternyata gagal – terlihat agak grogi. Mau masuk jalan dari posisi parkir, mesin mobil menderung-derung, sampai beberapa kali. Aku gak tahu apa dia gak lepas kopling waktu injak gas, atau giginya belum masuk. Demikian juga pas masuk roundabout belok kanan ke highway, mobilnya agak direm mendadak. Dia juga agak kurang pede mau ambil masuk, sampai polisinya agak marah suruh cepat-cepat masuk. Gak lama dia disuruh parkir, lagi-lagi karena grogi atau kurang pengalaman, pindah giginya menyentak dan remnya mendadak. You can’t teach experience. Giliranku sekarang.

Aji-aji sapaan bahasa Arab aku keluarkan begitu masuk mobil. Atur posisi tempat duduk, pasang seat belt, atur mirror samping dan belakang, baru mulai menjalankan kendaraan. Step-step matikan lampu hazard, masukkan gigi, dan lepas rem tangan aku jalankan dengan baik. Termasuk kasih sein kiri dan shoulder check waktu memasuki jalan.

Baru jalan beberapa puluh meter, dan masuk gigi tiga, Polisi sudah menyuruh belok kiri ke priority road. Aku lihat mirror, kasih sein kiri, turunkan gigi ke 2, jalan pelan sambil cek lalu lintas kanan kiri, aku masuk ke priority road, then polisi nyuruh parking. Aku liat mirror belakang, kasih sein kanan, masuk bahu jalan, jarak kira-kira 3 meter, aku pelan-pelan mengerem sampai mobil berhenti. Pasang rem tangan, netralkan gigi, pasang lampu hazard. “Shukran” kataku, lagi-lagi pendekatan budaya.

Khalas. Itu semua rangkaian test. Tinggal sekarang worrynya. Kami ditransfer ke bus besar, dan menunggu sekitar 40 menitan di sana. Membuat worrying semakin besar. Jam 9 pas kami sampai Karwa. Tidak terlalu lama, keluar Polisi tua dan petugas Karwa. Kemudian dia memanggili satu persatu nama pada berkas di tangannya. Mereka bilang, yang ada di depan ini, orang-orang yang failed. Yang tidak disebut namanya, bisa pulang dan kembali hari Minggu untuk ambil SIMnya. Yang lulus segera bersalaman, meski tak lama kemudian kami nyadar kalau pengumuman itu hanya buat mereka yang road testnya ama Bapak Polisi Tua. Sementara kebanyakan kami road test dengan Bapak Polisi Muda. Berarti kami masih harus menunggu. Menyebalkan.

Dan memang menyebalkan karena ada mungkin 20 menitan kami harus menunggu pengumuman dari Bapak Polisi Muda. Sama seperti petugas sebelumnya, petugas Karwa bilang yang dipanggil adalah mereka yang gagal. Yang gagal disuruh hubungi petugas registrasi untuk penjadualan kembali testnya. Namun berbeda dengan Bapak Polisi Tua, kali ini berkas di tangan polisi sangat banyak. Hmmm….makin bikin deg-degan. Bapak Polisi Muda memang dikenal sangat strict dengan road test. Lalu satu persatu nama-nama dipanggil, nama Filipino, Indian, Nepal, Srilanka…dst…..sampai berkas terakhir dibaca…tidak ada nama pasaran Indonesia ini…Wahyu Hidayat. Aku lulus?

Alhamdulillah.

Kabar gembira harus diberitakan. Maka setelah tahu aku lulus, aku calling isteriku, juga aku calling Mujeeb driving instructor dan bertemu dengannya untuk memberi sekedar tips. Setelah itu ada banyak sms menanyakan aku lulus tidaknya. Terimakasih, terima kasih.

Kini aku mendapatkan “kaki” untuk bergerak di Qatar.

Advertisements

One thought on “Mendapatkan “Kaki” – Cerita Driving Test”

  1. Pak Wahyu,

    Salam kenal, Saya boleh minta email pak wahyu untuk japri? Saya ada panggilan interview tanggal 27 Feb 2011 untuk rover operator LNG di Qatar Gas. Saya ingin sharing dengan pak wahyu dan ingin bertanya mengenai job description disana. Terima kasih.

    Novri

Comments are closed.