Etihad

Kenapa waktu berjalan begitu lambat…..penerbangan ini…..waktu tunggu itu….Tidak salah memang yang mengatakan Time flies if you’re having fun dan menunggu adalah pekerjaan yangmembosankan.

Meskipun tidak selama pener bangan terpanjang yang pernah aku lakukan dari Singapore – Moscow – Houston (hampir 22 jam), penerbangan total 11 jam Doha ke Balikpapan (tak termasuk waktu tunggu, transit dan taxi) tetap saja terasa lama.

Penerbangan Etihad ke Abu Dhabi berangkat tepat waktu 22.40 PM. Sebelumnya diantar oleh Hyundai santa Fe-nya Oom Edy aku tiba di Doha International Airport sekitar jam 19.30-an. Counter check-in sudah buka sehingga aku bisa langsung check-in. Sisa waktu hampir dua jam sebelum boarding aku pakai buat makan malam, sholat, browsing internet dan beli buku. Aku masih belum percaya – seperti bayanganku pertama kali datang ke Doha – bahwa bandara international di negara kaya ini tidak banyak menawarkan enjoyment buat penggunanya. Nothing virtually can be done in this tiny airport. Semoga bandara baru New Doha International Airport yang sedang dibangun memberi banyak kenyamanan, dan enjoyment buat penunggu penasaran seperti aku ini.

Penerbangan ke Abu Dhabi sangat singkat. 15 menit pesawat mengudara, pramugari membagikan hotdog lalu mengumpulkan sampahnya 10-15 menit kemudian karena pesawat akan landing. Penerbangan ke Abu Dhabi hanya memakan waktu 45-50 menit.

Lalu, uhhh, Abu Dhabi memberikan kejutan, begitu masuk ke transit lounge, penumpang dipaparkan pada atrium sentral bundar dengan tiang bermotif mozaic yang penuh dengan kerumunan banyak orang yang sibuk mencari-cari arah ke gatenya masing-masing serta kepungan toko duty free. Seolah Abu Dhabi menyuruh sok belanja dengan nada memaksa. Kalau Anda pernah transit di Singapore, di Domodedovo Moscow, atau LAX Los Angeles, Anda akan percaya bahwa begitu datang dan langsung dihadapkan pada kerumunan banyak orang dan masuk ke labirin duty free adalah sambutan yang kurang menyamankan.

Selepas atrium dan melewati security check, aku mesti melewati koridor panjang sejauh 15 menit jalan kaki (andai kecepatan jalan kaki adalah 6 km/jam rata-rata maka jaraknya adalah 1.5 km). Tidak menunggu lama, aku boarding tepat waktu ke pesawat airbus A330 Etihad yang akan membawaku ke Jakarta.

Praktis satu jam aku berada di dalam perut pesawat bernada beige di interiornya ini sampai pesawat take-off. Fasilitas kamera di bawah pesawat dan di depan pesawat cukup mampu mengagumkan anak desa ini – (baru kali ini jek naik pesawat dengan fasilitas kamera – tidak juga pesawat antar benua milik SIA yang aku tumpangi 5 bulan lalu).

Beberapa catatan mengenai tiket, layanan dan performa Etihad yang aku tumpangi:

          Layanan ground handling bagus.

          Boarding, take off dan landing tepat waktu dengan margin tidak sampai 10 menit

          Leg room Etihad jarak pendek (A319) lebih roomy dibanding Etihad jarak jauh (A330)

          Makanan sesuai pesanan via internet. Kualitas tidak konsisten. Kadang enak kadang biasa. Kebanyakan overcooked.

          Layanan di udara cukup bagus

          Entertainment dengan pilihan games, movie, audio, TV, communication, dan maps/camera. Pilihan film terbaru terbatas. Musik dan film Indonesia agak terbatas dibanding misalnya SIA atau Qatar Airways jarak jauh.

          Amenities standard

          Harga tiket saat itu: QAR2980 (round trip, satu level di atas tiket termurah QAR2500).

Advertisements