Homesickness starts with the food!

Che Guevara once said that the first sign of homesickness is missing the food. Unfamiliar foods make you homesick for everything else?

I couldn’t agree more.

Bayangin dari sejak kecil kita dijejali oleh makanan itu-itu, lalu ketika kita di luar negeri kita dicerabut dari jejalan makanan itu. How can we not be homesick? Jangan heran kalo ada denger cerita temen yang pergi ke Houston dan yang selalu dicarinya setiap hari adalah makanan padang. Dan temen yang bersangkutan tidak mau di-assign ke luar negeri untuk jangka waktu lama karena takut homesick dengan masakan padangnya. Tentu saja homesick ini ada tingkatannya. Ada yang baik-baik saja dengan makan jenis makanan baru, ada yang tidak bisa tidak harus makan nasi, ada juga yang di antaranya. Temenku yang di atas tentu saja yang agak parah tingkatannya.

Fortunately, ada banyak cara mengatasi homesick akan makanan Indonesia. Berikut di antaranya:

1. Ikut acara kumpul-kumpul orang Indonesia. Yakin deh pasti salah satu atau semuanya menu Indonesia

2. Berburu makanan Indonesia. Ada tiga restoran resmi Indonesia di Doha – yang aku tahu: Central Restaurant di Umm Ghuwailina, Restoran Minang di Musheireb, dan Qatindo di Al Ghanim Bus Station. Di luar itu, banyak penyedia makanan Indonesia tidak resmi. Tidak resmi maksudnya tidak terdaftar sebagai company tapi sudah diketahui umum menyediakan secara terbatas atau based on request makanan-makanan Indonesia. Contohnya di belakang McD Al Wakrah, di Qapco Accommodation di Al Wakrah, di banyak tempat di Al Khor Community, di 7Pearl-Doha, dst…Soal rasa? Ada yang karena keterbatasan bumbu kurang menggigit tapi banyak di antaranya gigitannya lebih kuat daripada gigitan anjing herder.

3. Bawa bumbu dari Indonesia atau beli bumbu di sini lalu masak sendiri di rumah.

4. Sewa koki dari Indonesia yang sedang bekerja di sini. Seperti yang pernah kami lakukan dengan menyewa salah satu koki kenamaan restoran terkenal di sini untuk pesta tahun baru 2009 lalu. Yang ini tahunya dari mulut ke mulut dan koki yang bersangkutan juga kadang fully booked.

5. Mencicipi makanan lain sejenis. Masakan Thailand bisa dicoba karena bumbu dan rasanya agak mirip. Sudah coba Supreme Fried Rice-nya Thai Chi di Villagio atau Thai Snack di Al Mirqab? Rasa masakan Filipino beberapa di antaranya juga mirip dengan masakan Indonesia.

6. Turunkan addiction Anda terhadap masakan Indonesia . Ya saya tahu perut kita sudah punya filosofi: Belum makan kalo belum kena nasi. Bisa-bisa cacing di perut teriak-teriak. Tapi menurunkan addiction ada baiknya jadi Anda akan siap menerima masakan baru. Sekaligus ini pengalaman baru menikmati makanan setempat. Belajarlah dari Pak Bondan “Mak Nyus Pemirsa” Winarno yang sudah terlatih menerima segala jenis masakan. Jangan salah, masakan setempat juga banyak yang enak-enak. Aku sendiri senang menikmati dessert Mid-Eastern i.e. baklawa, Umm Ali, Kunafa atau masakan lain seperti hummous, shawarma, khebab.

Masih homesick juga?

Sama. Tapi aku bukan karena masakannya. Wong anggota Jalansutera kok homesick with the food. Aku kangen ama suasananya, atmosfernya. Duh, mana bisa kita duduk di luar malem-malem nungguin mie tek-tek lewat, atau sarapan ama bubur ayam si mang yang lewat pada jam yang sama setiap paginya. Atau jalan dikit di pinggir jalan makan pecel lele, sate ayam atau soto di warung. Teh botol dua Mas!

Siapa suruh pergi ke Qatar Wahyu!

Advertisements

3 thoughts on “Homesickness starts with the food!”

  1. wah…hebat pak wahyu
    bagus web nya..informatif…
    barusan liat2 niy…. salam buat teman arisanku, bunda early ya…
    mgn tulisan ini, komen ku: setuuujuuuu…. sapa suru datang tu doha…hahaha…

  2. Nice Blog! Salam Kenal Om Wahyu! saya suka baca blognya klo lagi kangen sama Qatar. At least makanan Indonesia masih banyak di Qatar and gampang di dapat. The place that I am living now hampir ga ada makanan Indonesia, klopun ada rasanya beda sekali 😦

Comments are closed.