Selamat Ulang Tahun Isteriku!

Aku bertemu dengannya di suatu sore di suatu mal di cihampelas, bandung, tahun 1996. Cukup lama. Waktu itu aku bersama temenku dan dia juga bersama temennya. Yang aku paling inget hanyalah genggaman tangannya yang halus.

Kemudian akal romantisku menyuruhku mendekatinya. Statusku sebagai ketua perkumpulan mahasiswa Lumajang di Bandung cukup membantuku berasalan mengunjunginya, dia kebetulan berasal dari kota yang sama meskipun kami tidak pernah bertemu di kota asal kami.

Singkatnya setelah beberapa bulan kami jadian. Bukan main senangnya aku. Aku tidak habis pikir bagaimana dia mau jalan sama aku. Sebenarnya cukup berat bagi seorang mahasiswa miskin seperti aku yang mengandalkan kiriman bulanan seratus ribu untuk mengajaknya pacaran. Mengajaknya makan di luar tentu saja akan mengurangi jatah bulananku. Maafkan aku yang cuma bisa mengajakmu makan sate padang di simpang dago. Atau hanya membawakanmu martabak di tubagus. Atau mengajakmu jalan tapi terpaksa naik angkot. Padahal sainganku tentu saja, lebih kaya, lebih keren, dan lebih gaul. Jadi apa yang aku tawarkan padanya? Tidak lebih dari mimpi berani seorang mahasiswa ITB. Tapi bukankah orang yang berani bermimpi yang berhasil suatu nanti? Seperti Laskar Pelangi, dan Andrea Hirata dengan Edensor-nya?

Kami mengalami pasang surut hubungan dan episode seru yang membawa kami ke akhir hubungan. Praktis kami hanya bertahan beberapa bulan. Aku sempat dragging beberapa minggu sebelum akhirnya harus rela terlempar ke alam nyata. Dia bukan milikku lagi.

Aku kemudian sibuk dengan tugas akhir, penelitian dan ujian komprehensif serta berkeliling dari career fair yang satu ke career fair lainnya. Juni 1998 aku mulai bekerja di Caltex dengan status tanpa pasangan.

Lalu entah tangan Tuhan mana yang menggerakkanku sehingga di akhir tahun 1998 aku mengontaknya lagi. Sampai sekarang aku sendiri bahkan tidak ingat darimana aku mendapatkan nomer telepon rumahnya yang baru. Dan untungnya dia juga lagi sendiri. Lalu mulailah luncuran kata-kata melalui kabel ribuan kilometer menghubungkan kami kembali. Kami harus rela menunggu jam 11 malam demi mendapatkan tarif yang murah. Tidak jarang kami menghabiskan berjam-jam sampai tak seorangpun mau menutup telponnya.

Bulan Feb 99 aku berkesempatan mengambil cuti ke Bandung. Dan disitulah angin waktu membawa kami kembali ke masa indah beberapa tahun lalu. Di situ juga aku memberanikan diri mengajaknya untuk membawa hubungan ke tingkat yang lebih tinggi.

Tahun 2000, bulan Maret kami menikah. Aku langsung mengajaknya ke Duri, Riau, in the middle of nowhere. Kami memulai kehidupan baru yang benar-benar mulai dari nol, oh, bahkan minus, karena kami memiliki hutang di Koperasi Karyawan. Aku tahu ia mengesampingkan egonya untuk bekerja ketika mengiyakan ikut bersama ke Duri. Ada masa-masa alignment yang sulit yang kami jalanin di awal-awal pernikahan tapi Alhamdulillah itu tidak membuat kami menyerah.

Anakku yang pertama lahir tahun 2001. Kehidupan kami bertambah semarak. Tapi ini terusik ketika aku mengungkapkan keinginan untuk kuliah lagi di awal 2003. Sempat terjadi argumentasi berkepanjangan sebelum akhirnya dia lagi-lagi mengesampingkan egonya untuk mendukungku kuliah.

Kuliah di Singapore dengan beasiswa dari NUS sementara anak isteriku di Bandung tentu saja memberiku hari-hari panjang yang sulit. Satu tahun kami menjalani kehidupan keluarga jarak jauh. Hanya ibu yang tangguh yang mampu membesarkan anaknya dengan baik tanpa suami dan ayah anak-anaknya di sisinya. Dan dia menunjukkan ketangguhannya. Di akhir perjalanan kuliah Allah memberi kami anak kedua.

Setelah itu kami menghabiskan waktu di Sidoarjo selama beberapa bulan sebelum akhirnya kami menetap untuk kehidupan yang lebih baik di Balikpapan mulai tahun 2005. Balikpapan menjadi kota yang sangat kami senangi karena ukuran, suasana, keramahan, keamanan dan kehidupan kerja yang baik. Kami bisa dibilang menikmati kehidupan di Balikpapan sebelum akhirnya lagi-lagi aku mengusiknya dengan keinginan untuk bekerja dan tinggal di luar negeri. Apa lagi yang kamu cari? Dia bertanya padaku.

Hari-hari argumentasi, diskusi panjang, perseteruan mewarnai perjalanan menuju Qatar. Lalu bagaimana aku harus berterima kasih padanya ketika akhirnya aku mendapatkan kesediaannya mendampingiku. Kesediaannya menekan keinginan pribadinya.

Dan sekarang kami di sini, di Qatar, untuk menjalani kehidupan keras yang lain.

Kalau ada yang bilang di balik orang yang sukses terdapat wanita yang prima, aku akan mengiyakannya. Kenapa aku bisa berada di sini dan dalam kapasitas seperti sekarang  itu karena dia berkorban dan memberikan yang terbaik darinya untukku.

Kini ku tahu kenapa Tuhan menakdirkanku bersamanya. Karena dia tulang rusukku yang hilang. Karena dia penyeimbangku. Dan karena dia pelengkap dan penyemarak hidupku.

SELAMAT ULANG TAHUN ISTERIKU.

Kamu tahu aku selalu mencintaimu.

Advertisements