Get Lost in Venice

Lihat semua foto Venice di Facebook

Ungkapan bahwa kita pasti tersesat di Venice tidaklah sepenuhnya benar. Jika Anda memegang peta yang akurat (seperti yang saya beli di paris, atau Anda bisa membeli di tempat penjualan tiket vaporetto) Anda tetap akan bisa menavigasi Venice dengan hampir 117 pulau, 150 canal dan 400 jembatannya. Meski demikian jika Anda ingin menikmati sejatinya Venice, keluarlah dari jalur-jalur turis, pergi ke jalan-jalan sempit nan sepi, lihat rumah-rumah asli penduduk, dan canal-canal yang digunakan untuk transportsi penduduk dan bukan turis. Idealnya Anda harus membuang peta dan biarkan Anda tersesat. Toh tersesat-sesatnya Anda tidak akan keluar dari Venice, pun karena banyak papan petunjuk yang mengarahkan Anda ke Piazzale Roma (terminal bus), atau Rialto dan San Marco. Jadi jangan kuatir.

Tapi inipun tidak saya lakukan. Saya tetap memegang peta, tapi berusaha keluar dari jalur turis dalam perjalanan pulang ke stasiun dari Accademia. Apakah kami tersesat?

Satellite Map of Venice. The main island is approximately 5 km x 2.4 km. The inverse S canal is Grand Canal. At the lower end of this canal is San Marco, upper end is Santa Lucia station. Further left from station is Piazalle Roma. Right bottom corner is Lido. Murano is above small island near the mid-top. (Source: Wikimedia Common)

17 July 2010. Treintalia (http://www.ferroviedellostato.it/homepage_en.html) yang membawa kami dari Milan tiba di stasiun Santa Lucia Venice pukul 8 malam. Bangunan stasiun ini bisa dikategorikan modern, jika dibandingkan dengan bangunan di sekitarnya. Stasiun yang didirikan di bekas gereja Santa Lucia ini tidaklah besar, efektifnya hanya satu lantai dan tidak terlalu punya desain menarik tapi fungsional; ada food court kecil, luggage deposit, counter tiket dan penukaran uang, dan beberapa toko suvenir. Ruang terbuka di depan stasiun terhubung dengan Grand Canal. Sore hari Anda akan melihat banyak orang duduk-duduk di anak tangga stasiun, menikmati hilir mudik orang dari dan ke Piazalle Roma.Yang pasti stasiun ini perlu rehabilitasi! Signage tidak memadai, dan perubahan-perubahan telah mengubah kualitas dan image stasiun ini.

Hotel kami hanya kurang dari 5 menit jalan kaki dari stasiun: menyusuri canal lalu belok kiri di jalan pertama ke kiri. Bukan jalan sebenarnya tapi gang selebar bentangan tangan. Kami sengaja pilih hotel dekat stasiun biar cepat sampai hotel tanpa perlu transfer naik vaporetto atau water taxi. Di Venice, mobil dan bus hanya bisa menjangkau sampai Piazalle Roma, ujung dari 5-km jalan mobil dua jalur dan jalur kereta api yang menghubungkan Venice dengan daratan Italy. Hotel kami ini pun tidak terletak di pinggir grand canal. Kami tidak sanggup mendapatkan kamar di hotel di pinggir grand canal karena selain fully booked, mereka memasang tarif gila-gilaan. Untuk yang canal view mulai dari 400-an Euro. Hotel kami, Stella Alpina, memasang tarif 195 Euro untuk 4-person room including breakfast. Cukuplah untuk tidur satu malam. Venice memang kota mahal, kata Lonely Planet.

Dari majalah di pesawat  easyjet saya baru tahu kalau lagi ada festival di Venice (Festa del Redentore ) dengan puncaknya kembang api di perairan dekat San Marco. Kata petugas hotel kembang api akan dimulai jam 11 malam. Dan karenanya Grand Canal akan ditutup untuk transportasi. Satu-satunya cara ke sana ya jalan kaki selama kurang lebih 35 menit. Meski terdengar menarik, sepertinya kami cenderung untuk istirahat secara sudah exhausted karena Milan.

Menghabiskan malam pertma dan terakhir di Venice, kami pergi makan malam, berfoto di jembatan (salah satu dari 3 jembatan di Grand Canal, atau 4 jika jembatan modern di Piazalle Roma dihitung), melihat hilir mudik gondola, vaporetto dan water taxi di Grand Canal dan berjalan santai menikmati suasana malam. Kami seakan tidak percaya bahwa ini bukan mimpi, dan tidak palsu layaknya Villagio Mall di Doha. Kami di Venice! Dan ini nyata….

Venice. Grand Canal near Santa Lucia station at night

Saat kami mulai melelapkan diri, di luar sana sepertinya kembang api mulai berletusan di langit Venice. Suaranya bersahut-sahutan selama hampir satu jam menyelusup melalui jendela kayu tua kamar hotel kami. Biarlah, rasa lelah akibat Milan sudah tidak bisa ditanggulangi. Daripada besoknya tidak bisa menikmati Venice, terutama anak-anak, kami biarkan acara kembang api ini lewat. Dari mencuri dengar pembicaraan orang Indonesia di San Marco esoknya, orang baru bisa balik ke hotel jam 2 dini hari.

Pagi pertama kami dan sekaligus terakhir di Venice. American breakfast yang disediakan hotel lumayan mengisi perut kami. Setelah checkout dan menitipkan barang kami segera bergegas keluar. Masih jam 8-an pagi saat itu. Kegiatan pertama: membeli tiket vaporetto (atau water bus). San Marco yang menjadi tujuan kami dilalui oleh line (linea dalam Italy) 1. Untuk tiket satu hari tarifnya 18 Euro, one way 6 Euro. Kami memilih one way karena rencananya kami hanya akan menggunakannya sekali dan akan jalan kaki dari San Marco ke Piazalle Roma di akhir perjalanan. Meski judulnya one-way tapi Anda bisa menggunakannya untuk naik turun vaporetto selama masih dalam batas 1.5jam. Lagi-lagi seperti Milan penggunaan tiket berdasar azas kejujuran, dengan memvalidasi tiket di mesin validasi dan tidak adanya petugas pemeriksa.

Selain rute ke San Marco, ada juga line ke Lido (terkenal karena beachnya) dan Murano (terkenal karena glass blowing-nya). Lido adalah semacam pulau buatan yang dirancang untuk melindungi Venice dari pajanan Laut Adriatik secara langsung. Sementara Murano, juga pulau lainnya, layak dikunjungi jika Anda tertarik melihat industry glass blowing. Hanya saja saat ini serbuan barang-barang seni gelas dari China membuat Anda mesti hati-hati jika membelinya. Pastikan barang gelas Murano yang Anda beli bersertifikat dan memang asli dari Murano.

Vaporetto berhenti di vaporetto stop setiap 200-300 meter dengan rute kebanyakan zig-zag, dari sisi kanan ke sisi kiri begitu seterusnya. Anda bisa memilih duduk di dalam ruangan tertutup berjendela kaca atau di palka beratap. Best view adalah di bagian buritan kapal.

Canal & Gondola, one of the Venice's landmark

Tidak lebih dari 30 menit kemudian, melewati Grand Canal yang membentuk alur S terbalik dari stasiun ke San Marco,  kami tiba di Piazza San Marco, yang menurut Napoleon adalah “ the best European lounge”. Kompleks wisata utama Venice ini terdiri dari Basilica di San Marco , Campanile di San Marco, Palazo Ducale dan Museo Correr.

San Marco from vaporetto

Nama lengkap Basilica adalah Basilica Cattedrale Patriachale di San Marco. Ia merupakan gereja katedral dari Katolik Roman Venice, dan contoh dari arsitektur Byzantine. Basilica yang dibangun pertama kali pada 828 ini terhubung dengan Palaza Ducale (Doge’s Palace).

San Marco

Untuk masuk Basilica sebenarnya gratis. Hanya saja antrian yang panjang, untuk durasi kunjungan yang dibatasi 10 menit, mungkin membuat Anda berpikir ulang. Ada beberapa website yang menawarkan booking tiket (dengan biaya hanya 1 euro) sehingga pengunjung bisa mem-bypass antrian. Sayangnya untuk masuk ke museum dan high altar dan treasury di dalamnya ada biaya tambahan 2-3 Euro. Kami tidak masuk ke Basilica.

Di seberang Basilica adalah Campanile. Campanile adalah bell tower. Konon di sinilah Galileo Galilei mendemonstrasikan teleskopnya. Campanile yang sekarang adalah rekonstruksi  di tahun 1912 dari tower yang runtuh pada  tahun 1902. Dengan tinggi 98.6 meter, sebagian besar adalah menara bata merah, campanile adalah simbol yang paling mudah dikenali di Venice.

Campanile

Waktu terbaik adalah pagi-pagi seperti yang kami lakukan sehingga kami langsung masuk ke dalam campanile tanpa antrian sama sekali. Cuma perlu diperhatikan kalau Anda mengunjungi pas jam menunjukkan 00 menit Anda akan dipaksa mendengarkan dentangan kencang dari 5 bel besi besar yang tergantung tepat di atas tempat kita melihat-lihat Venice dari atas. Camponile adalah must-see menurut saya. Dari ketinggian 98,6 meter itu, Anda bisa melihat sekeliling Venice dengan sempurna: daratan Italy di kejauhan, Laut Adriatik, beberapa pulau sekeliling Venice, rumah-rumah yang dikeliling canal-canal, dan tentu saja Piazza San Marco.

From Campanile. Shown here Piazza San Marco

Palazo Ducale (Duke’s Palace), adalah istana gotik tempat tinggal Duke of Venice. Ada tour yang bernama Secret Itinerary (dari 16 Euro) menawarkan kunjungan ke dalam Palazo Ducale; melihat bagian dari istana di mana administrasi kota bekerja, penjara Casanova dan struktur atap berusia lima ratus tahun. Yang ini sebenarnya must-see juga, cuma waktu tour yang agak panjang, hampir dua jam, membuat kami urung melakukannya. Jika Anda punya waktu 2 hari saya menyarankan untuk mengambilnya. Tapi perlu diingat bahwa jika kunjungan pas musim panas, kondisi di dalam gedung bisa sangat panas dan gerah. Palazo Ducale juga terkenal karena Bridge of Sighs (Ponte dei Sospiri) yang menghubungkan istana dengan sayap tambahan penjara kota. Disebut demikian karena desahan atau keluhan tahanan yang melewati jembatan ini. Desahan yang muncul karena para tahanan tahu inilah saat terakhir kali mereka melihat Venice melalui kotak-kotak kecil lubang angin pada dinding yang melingkupi jembatan. Sayangnya waktu kami mengunjunginya, jembatan ini terkepung oleh billboard besar warna biru yang merusak konektifitas aristektural bangunan dan jembatan.

Di ujung barat piazza terdapat museum yang bernama Museum Correr. Museum ini menawarkan koleksi menarik bola dunia dari sejak abad ke-16, benda-benda antic Roman dan galeri lukisan.

Seperti layaknya pusat turis, di San Marco Anda pun bisa menemukan kios-kios souvenir, dan café-café yang menawarkan pemandangan langsung ke Piazza. Tentu saja, ini ada harganya.

Puas mengelilingi dan mengambil foto San Marco, kami melanjutkan perjalanan untuk menambah koleksi shot glass Hard Rock Café.  Sempat nyasar juga sampai menemukan Teatro La Fenice dan San Fantin sebelum menemukan Hard Rock Cafe yang ternyata berada tak jauh sebelah utara dari Museum Correr.

Dari sini kami lalu mengikuti arus orang ke Rialto Bridge (Ponte di Rialto). Dengan banyaknya gang yang selalu bermuara ke Grand Canal, ada banyak cara dari San Marco ke Rialto. Jadi jangan heran kalau Anda mendapati tanda panah arah ke Rialto yang saling berlawanan. Tapi tidak perlu kuatir, tanda itu semuanya benar. Sepertinya, banyak pemilik usaha yang memasang tanda tersebut untuk mengarahkan orang lewat tempat usahanya.

We, Gondola, and Rialto Bridge

Rialto Bridge memiliki sejarah yang merentang 800 tahun dan menjadi salah satu ikon paling dikenal dari Venice. Jembatan busur berlajur dua ini mungkin jembatan tersibuk di Venice selain jembatan yang menghubungkan train station dan terminal Piazalle Roma. Di sini Anda bisa menemukan pasar traditional, makanan setempat dengan harga agak bersahabat, atau tempat naik gondola.

Cobalah naik ke jembatan, berdiri menghadap canal dan berdiam diri sejenak mengamati hilir mudik segala macam alat transportasi yang memenuhi canal, riak gelombang yang menghempaskan gondola akibat speed boat lewat, dan orang berpakaian loreng hitam atau merah mengayuh gondola untuk turis-turis yang rela mengeluarkan uang besar demi pengalaman bergondola.

From Rialto Bridge

Tarif Gondola ride sebenarnya diatur oleh pemerintah Venice, tapi sepertinya hukum supply-demand masih berlaku. Untuk tahun 2009 misalnya tarif resminya adalah 80 Euro untuk ride selama 40 menit sebelum jam 7 malam tapi aktualnya bisa mencapai 100 Euro. Anda mungkin bisa menawar tapi konsekuensinya rutenya akan diperpendek oleh gondoliernya. Tarif gondola adalah per gondola bermuatan 6 orang; jadi semestinya Anda bisa sharing dengan orang lain jika mau.

Gondola yang kami naiki dari dermaga di sebelah barat Rialto melewati bawah jembatan Rialto lalu belok kanan lewati canal-canal sempit di belakang rumah-rumah penduduk,  melewati rumah Marco Polo dan kemudian balik ke Rialto. Sebuah perjalanan pendek 25 menit yang mahal demi pengalaman langsung bergondola asli! Yang membuat gondola ride mahal adalah fakta bahwa gondolier sangatlah terbatas (hanya 430-455 orang), harus laki-laki dan lahir di Venice.

 Melewati  canal sempit yang hanya persis muat untuk 2 gondola berpapasan, kelihaian driver gondola terlihat di sini. Kadang gondolier menggunakan kayuh untuk mengarahkan gondola, terkadang juga menggunakan tolakan pada dinding-dinding rumah pembatas canal dengan tangan atau kakinya. Tidak jarang kami temui ujung tembok bangunan di canal tergores-gores yang pasti akibat gesekan dengan gondola.

Jika Anda beruntung Anda bisa mendapatkan tukang gondola yang mau bernyanyi untuk Anda. Melewati bawah Rialto Bridge membuat nyanyiannya bergema. Nyanyian yang lalu kami sahuti “lalalalala…..” menarik perhatian orang-orang di atas jembatan. Biarlah toh mereka tak kenal kami….Di lain tempat kami juga mendapati sepasang turis China yang dihibur oleh dua orang penyanyi yang menyanyikan nyanyian ala operanya Pavarotti.

Alternatif murah untuk menikmati gondola adalah naik traghetto (semacam perahu tambang di Indonesia) yang menghubungkan dua sisi canal yang tidak ada jembatannya. Sayangnya Anda traghetto seringkali padat dan penumpangnya harus berdiri.

Sebelum naik gondola kami sebenarnya baru saja puas menikmati makanan Italia langsung dari sumbernya. Di daerah Rialto ini Anda bisa menemukan restoran dengan harga bersahabat tapi dengan rasa yang juara. Cari saja restoran yang menawarkan self-service alias prasmanan. Makan siang berempat kami “hanya” mengeluarkan 45 Euro.

Dari Rialto kami melanjutkan perjalanan ke Galleria dell’Accademia. Accademia adalah galeri top Venice, yang juga salah satu yang terbaik di Italy. Galeri ini menampilkan perjalanan Venetian art dari abad 14 sampai 18. Sayangnya kami tidak boleh memotret di dalam galeri, pun galeri ini tidak ber-AC. Cukup gerah di panas summer saat itu.

Selesai di Accademia, masih ada dua jam sebelum kami harus bertolak ke Marco Polo airport. Kami memanfaatkannya untuk menyesatkan diri ke jalan-jalan sepi Venice dalam perjalanan dari Accademia menuju Piazzale Roma. Tidak sepenuhnya tersesat, hanya sedikit detour lalu balik lagi ke jalur utama, detour lalu balik lagi. Dalam perjalanan tersesat ini kami bisa menikmat Venice yang tidak terlalu turistik: rumah berjendela bunga, gereja-gereja kecil, canal-canal sempit nan sepi, maupun piazza-piazza (=square) dan campo-campo (= field) kecil.

At the less travelled Venice's backyard

Ujung dari perjalanan kami berakhir di Giardino Papadopoli, taman dekat Piazalle Roma. Taman ini cukup favorit di kalangan turis sebagai tempat melepas penat, tidur siang atau buat anak-anak bermain di playgroundnya. Sembari anak-anak bermain di taman, saya menyempatkan membeli tiket bus ke airport di counter ACTV di Piazalle Roma. Tiket bus ke Marco Polo airport yang berada di daratan Italy sekitar 12 km dari Venice dengan 5 km di antaranya jalur jalan penghubung Venice dan daratan Italy) hanya seharga 2.5 Euro untuk perjalanan selama 35 menit. Bus ACTV no.5 yang akan membawa kami bukan bus langsung ke airport melainkan bus umum yang harus berhenti beberapa kali di daerah perumahan atau daerah camping ground.

Dari Piazalle Roma kami balik ke area hotel untuk mengambil barang bawaan kami, melewati jembatan modern berdesain menarik. Sisa waktu sebelum boarding bus ke airport kami manfaatkan kembali untuk menikmati sisi sepi Venice di daerah Cannaregio (sebelah timur train station), menjilati ice cream di tepi canal, berbelanja terakhir souvenir dan pasta, dan menyaksikan kegairahan kaum tua local untuk pergi ke gereja.

Gone to non-touristic area to find the real Venice

Sampai pesawat budget-airline easyJet yang membawa kami mendarat di Paris Orly, airport di selatan Paris, kami masih tidak percaya kami sudah pernah ke Venice, baru saja. Dengan menaiki airport train (orlyval) kami menuju RER/metro station Antony untuk menaiki RER B ke Chatelet station yang kemudian disambung RER A ke La Defense, rumah kami selama di Paris.

Sewaktu transfer kereta “Ayah, kok badanku masih serasa goyang-goyang kayak naik gondola ya”, ujar anakku polos. Gubrak! 

Advertisements

2 thoughts on “Get Lost in Venice”

  1. Mas Wahyu,

    I love it!! I love your blog! Menginspirasi saya. Rencananya Saya dan Adik saya yg tinggal di Voorschooten Holland mau jalan2 keliling eropa May tahun depan! N kebetulan juga kita MILANISTI till death! Sampaikan salam kami buat istrinya ya..

    Thanks a zillion for your blog duehhh….

Comments are closed.