Brussels

This post is written in Bahasa Indonesia. To read its translation, please check Google Translate. It might not be perfect translation but you can still grab the ideas. Pictures are stored in my Facebook.

——–

Foto dapat dilihat di Facebook saya.

Pertanyaan pertama: Bruxelles atau Brussels sih?

Dua-duanya benar karena ibukota Belgium ini sebenarnya menggunakan dua bahasa resmi: French dan Dutch. Jadi ya jangan heran kalau semua nama jalan dan tempat memiliki dua nama, yang bunyinya bisa jauh berbeda. Meskipun resminya blilingual, French lebih banyak dipakai dalam percakapan sehari-hari. Untungnya English juga banyak dimengerti (terutama tourist and public service) meskipun tidak banyak dipakai dalam percakapan.

Pasti ada yang nanya: ngapain ke Brussels? memangnya  ada yang menarik di sana? Yuk mari…..

Kedatangan

Pagi itu, 9 July 2010, kami sekeluarga dalam perjalanan pulang ke Paris dari Amsterdam, mampir beberapa jam (delapan jam tepatnya) di Brussels sebelum train Thalys membawa kami ke Paris sore harinya. Singkat amat? Meski short visit kami sengaja tidak menggunakan jasa tour agar kami lebih fleksibel dan bebas blasak-blusuk; tapi konsekuensinya persiapan pre-departures harus matang dan harus rela jalan cepat ala atlet jalan cepat…hehehe. Tadinya kami hampir saja mengurungkan niat  ke Brussels setelah mendengar beberapa cerita serem (terutama di stasiun Midi) dari Tripadvisor, tapi kemudian kami tekadkan datang tapi dengan precautions yang lebih.

Train Thalys tiba di stasiun Bruxelles-Midi/Brussel-Zuid (atau Brussels South) pukul 10.10 pagi setelah menempuh perjalanan 1 jam 50 menit dari Amsterdam melewati Schipol Airport, Rotterdam, dan Antwerp. Di ketiga tempat itu kereta hanya berhenti barang beberapa menit untuk turun-naik penumpang.

Dengan menggeret satu koper-ransel (maksudnya koper yang bisa dijadiin ransel) kecil dan membawa dua backpack kami bergegas menuju ke Automatic Locker  untuk menyimpan barang bawaan. Tujuannya ya biar kami bisa mengeksplore Brusells dengan lebih leluasa tanpa terganggu bawaan. Lokasi locker sudah kami survei via internet semasa kami masih di Doha sehingga tanpa kesulitan kami menemukan lokasi locker yang berada di dekat eskalator platform 5 dan 6 ini. Automatic locker menyediakan tiga jenis locker: besar, medium dan kecil. Tarifnya untuk medium yang kami pakai hanya 3 Euro per 6 jam. Lockernya tidak menyediakan kunci untuk membuka/tutup, melainkan dengan menggunakan barcode di ticket yang tercetak setelah kita membayar sesuai tarifnya.

Stasiun Midi ,yang juga stasiun terbesar di Brussels, terhubung dengan jaringan bus dan metro. Meski tidak sebanyak Paris, jaringan metro 6 line ini membantu sekali dalam menjelajahi Brussels. Tiket paling murah dan praktis adalah one-day ticket seharga cuma 4.5 Euro yang bisa dibeli dari ticket machine menggunakan coins atau notes.Nah tiket ini entar divalidasi pada mesin kecil warna orange yang ada di bus/tram atau di jalan masuk metro stations. Mesin orange ini men-stamp waktu pada tiket baik print maupun magnetic.  Validitynya cuma 1 jam kecuali kalau pakai ticket one-day atau 3-day.

Tujuan kami pertama adalah Atomium dan Mini Europe di bagian North-West, pinggiran kota Brussels, sekitar 6 km dari pusat kota. Untuk mencapainya, kami menggunakan metro 6 jurusan Roi Baudouin/Koning Boudewijn  dan berhenti di stasiun Heysel/Heizel. Dari stasiun ini, Anda sudah bisa melihat kilauan bola besar alumunium, dan bisa menjangkaunya hanya dengan 5 menit jalan kaki.

Atomium

Atomium adalah struktur 9 bola (satu  di setiap titik sudutnya plus satu di pusatnya) yang terhubung sehingga membuat bentuk satu sel kristal besi yang diperbesar 165 miliar kali.  Tube yang menghubungkan bola pada 12 rusuk kubusnya dan 8 ke arah pusat berisi escalator yangmenghubungkan antar bola. Masing-masing bola berdiameter 18 meter. Sejatinya, struktur berketinggian 102 meter ini adalah bekas gedung world expo tahun 1958. Awalnya dirancang untuk sementara tapi sejarah mencatat lain sehingga Atomium  tetap ada sampai sekarang dan  menjadi atraksi Belgium yang menonjol.

Waktu kami mengunjungi atomium bulan July 2010 itu, tiket Atomium berharga 11/4 Euro untuk dewasa/anak, sementara jika digabungkan dengan kunjungan combo ke Mini Europe harganya menjadi 22.40/12 Euro. Dari 9 sphere (bola) hanya 5 yang bisa dimasuki oleh turis: bola dasar tempat permanent exhibition, bola temporary exhibition, bola pusat, bola panorama paling atas, dan bola mini-panorama (Kid’s sphere).

Untuk naik ke bola paling atas, kami harus mengantri ke satu-satunya lift yang tersedia. Antrian cukup panjang sehingga kami menghabiskan waktu hampir setengah jam di antrian. Pemandangan dari bola paling atas memang lumayan menarik. Anda bisa melihat Mini Europe dan BruParc, stadion, maupun jalanan berpagar pohon rindang. Lamat-lamat di kejauhan Anda juga bisa melihat pusat kota Brussels. Di bola panorama atas ini juga terdapat restaurant.

Dari bola paling atas, kami menuruni elevator curam ke bola berikutnya di mana ada display mengenai sejarah imigran di Belgium, dan sejarah bangunan expo ini. Yang menarik adalah display mengenai fakta Expo 58 dalam angka yang cukup mencengangkan: 2000 anak hilang, 8 bayi lahir di Expo, 5 orang meninggal dan 27 orang putus asa yang mencoba bunuh diri. What?

Ada satu sphere lagi yang kami lewati – Kid’ sWorld – tapi sayangnya waktu itu sedang tutup. Saya kurang mengerti tapi isinya adalah bola-bola warna-warni yang digantung dengan tempat tidurpada rongganya. Untuk apa ya?

Toko suvenir ada di lantai bawah di dekat lift atau di dekat loket penjualan tiket. Snack dan minuman ringan dijual juga di dekat loket. Untuk makan berat saya sarankan mengunjungi food court di BruParc di dekatnya.

Dari menikmati sphere Atomium di dalamnya kami kemudian keluar kompleks Atomium untuk menikmatinya dari agak jauh sehingga mendapatkan keseluruhan bentuk Atomium. Dari pandangan agak jauh tapi simetris kami bisa melihat bentuk yang menarik dari atomium. Saya salut dengan arsitek Waterkeyn yang merancang bangunan ini di tahun 1950-an; maksud saya di jaman itu sudah merancang bangunan yang simbolik dan futuristis untuk masanya.

MiniEurope

Dengan banyaknya headquarter dari institusi Europe di Brussels, Brussels bisa dipandang juga sebagai ibukota European Union. Dan keberadaan MiniEurope seolah memperkukuhnya. Dari Atomium kami kemudian pergi ke BruParck untuk mengunjungi Mini Europe dan sekaligus untuk mencari makan siang di The Village (area restaurant di BruParck). Di kawasan BruParck juga terdapat Kinepolis (3D and 4D cinema complex) dan Oceade (subtropical aquatic park).

Mini Europe ini seperti Madurodam di Amsterdam atau Miniaturk di Istanbul, adalah taman yang menampilkan bangunan/monument paling menarik di European Union dalam skala kecil (1:25). Menurut catatan ada sekitar 350 bangunan yang ditampilkan dari sekitar 80 kota. Yang membedakan Mini Europe dengan taman sejenisnya adalah kualitas modelnya, beberapa sangat mahal, seperti misalnya Grand Place Brussels yang dibuat dengan biaya 350 ribu Euro.

Beberapa bangunan/landmark yang ditampilkan antara lain: Tour Eiffel, Arc de Triomphe, Notre Dame  and Pompidou dari Perancis,Doge’s Palace dan St Mark’s campanile, Menara Pisa dari Italy, windmills Kinderdijk dari Netherland, Big Ben, TGV train, North Sea oil platform, roket Ariane 5 bahkan gunung Vesuvius. Anak-anak mungkin akan terpikat dengan mainan kapal dengan joystick, atau memasukkan sebagai wajah dari penjaga istana di UK atau prajurit perang.

Mini Europe

Masih dalam kawasan Mini Europe, pada akhir rute kunjungan, adalah Spirit of Europe yang menampilkan informasi atraktif mengenai EU dalam bentuk permainan multimedia.

Brussels

Jam tangan menunjukkan jam 3 sore; yang berarti tinggal 3 jam lagi di Brussels. Kami menaiki metro yang sama untuk kembali ke Brussels, tapi kali ini tidak berhenti di Brussels Midi melainkan di Trone/Troon (capek juga ya kalau haruse selalu mencantumkan nama dalam dua bahasa seperti ini…hehehe).  Rencana saya dari Trone/Troon kami berjalan ke arah Grand Place dengan melewati beberapa sightseeing menarik. Peta dari Lonely Planet edisi Europe by Shoestring, dan peta yang saya beli di Atomium menjadi senjata utama.

The Royal Palace of Brussels ((Dutch: Koninklijk Paleis van Brussel, French: Palais Royal de Bruxelles) adalah tujuan pertama, sekitar 5 menit jalan kaki dari stasiun Trone/Troon. Ini adalah istana resmi raja Belgium tapi tidak digunakan sebagai kediamannya. Royal Palace ini berhadap-hadapan dengan gedung parlemen (The Palace of the Nation) tapi dipisahkan oleh Brussels Park, taman hijau yang sangat luas.

 Saat kami mengunjungi Royal Palace, jajaran panggung dan tempat duduk bertingkat sedang dibangun di depannya, sepertinya untuk acara peringatan tertentu yang kami tidak tahu. Alhasil kami tidak berhasil mendapatkan spot menarik untuk foto bersama. Ditambah langit sedang tidak sempurna. Eeuh…

Selepas Royal Palace, di bagian samping kiri adalah kompleks museum seperti  Bellevue dan Coudenberg Museum (museum sejarah Belgium), Musical Instruments Museum, dan Museum Ancient and Modern Art (keduanya disebut Royal Museums of Fine Arts of Belgium). Kesemua museum dan gereja St. Jacques sur Coudenberg  ini mengitari Place Royale.

Place Royale. The church of St Jacques-sur-Coudenberg at the background

Menuju daerah Grand Sablon kami kemudian dengan menyusuri jalan Rue de la Regence dengan Palais de Justice (the Law Court) yang megah sebagai background di ujung jalan. Kami melewati antara lain:  statue gardens dengan patung-patung uniknya, gereja The Church of Notre Dame du Sablon , taman Place due Petit Sablon, dan toko coklat Cote d’Or .

Belok kanan ke Place du Grand Sablon, maka kami menemukan Pierre Marcolini, dan Wittamer yang konon adalah pembuat coklat terenak (dan sekaligus termahal) di dunia. Aneka coklat dan cake coklat yang dipajang memang menggiurkan, mengundang selera.

Manneken Pis

Dari Grand Sablon kami ke Maneken Pis. Beberapa travel advice  tidak menyarankan ke sini karena not worth the effort katanya. Apa sih yang mau dilihat, kata mereka. Tapi kami tetap pergi ke sana juga. Patung anak kecil lagi pipis ini bikin penasaran. Seperti apa sih?

Manneken Pis sebenarnya patung air mancur kecil dari perunggu yang berupa anak laki-laki kecil telanjang sedang pipis ke dalam kolam. Kecil di sini maksudnya benar-benar kecil. Jangan bayangkan besarnya seperti patung-patung ukuran manusia atau lebih yang ada di Jardins du Tuileries di Paris, misalnya. Ini kecil banget: 61 cm. Cuma segitu?

Manneken Pis

Meski mungil, patung ini ternyata usianya sudah tua juga, dibuat tahun 1618 atau 1619. Dan di belakangnya ada setidaknya lima cerita legenda berbeda versi. Kalau Anda beruntung Anda bisa mendapati Manneken Pis tidak dalam keadaan telanjang, melainkan dalam kostum yang bisa berbeda-beda tiap minggunya. Ada ratusan kostum berbeda buat si anak kecil ini. Dan penggantian kostumnya pun melalui “upacara” dan kadang diiringi music. Keliatannya orang Brussels sayang banget ya sama si anak kecil ini?

Manneken Pis terletak di perempatan jalan Rue de l’Étuve/Stoofstraat and Rue du Chêne/Eikstraat. Sekitar 200m barat daya Grand Place. Sebelum Anda pergi ke Grand Place dari sini ada baiknya Anda mencoba waffel khas Belgium yang dijual di banyak tempat di jalan Rue de l’Étuve sampai ke Grand Place. Di ruas jalan yang sama Anda juga bisa menemukan banyak toko suvenir.

Grand Place/Grote Markt dan sekitarnya

Grand Place adalah salah satu must-see place, destinasi turis paling penting di Brussels. Tempat yang masuk dalam daftar UNESCO World Heritage Site ini merupakan alaun-alun pusat dari Brussels. Lapangan batu seluas 68 kali 110 meter ini dikelilingi oleh Hotel de Ville (Town Hall), Maison du Roi (King’s House) atau Breadhouse, dan Guildhalls. Museum coklat, museum brewer dan museum kota Brussels juga ada di sini.

Grand Place memiliki sejarah panjang dari sejak abad ke-10, cikal bakal kota Brussels dan sempat digunakan sebagai pasar bagi penduduk kota.

Grand Place

Tidak jauh dari Grand Place ke sebelah timur laut, di belakang museum kota adalah shopping arcade Galleries Saint Hubert, semacam Galleria Vittorio Emanuele di Duomo, Milan. Di dalamnya adalah butik, toko buku, café, restaurant, dan cinema, Di sekitaran galeri ini banyak terdapat café-café luar ruang tempat penduduk local nongkrong.

Dalam perjalanan perjalanan balik ke Brussels Midi dari Grand Place, kami melewati Cathedral dan The Bourse. The Bourse adalah bangunan tua akhir abad 19 yang menjadi tempat Brussels Stock Exchange. Setelah Grand Place, alun-alun di depan The Bourse adalah alun-alun paling penting di Brussels. Sore hari Anda akan menjumpai banyak orang yang duduk-duduk di tangga The Bourse sambil makan frites/fritkots.

Yang tersisa

Satu hari efektif sebenarnya cukup untuk mengunjungi  Brussels, tapi tidak delapan jam yang kami punya. Ada yang masih tersisa untuk dikunjungi. Jika Anda hanya punya waktu untuk satu museum, disarankan untuk mengunjungi  Royal Museums of Fine Arts of Belgium. Museum lain yang menarik adalah Natural Sciences Museum of Belgium atau Belgian Comic Strip Center . Anyhow, kayaknya kami cukup having fun di Brussels, meskipun di tengah panas summer, dan kembali ke sini, dengan sengaja, sepertinya tidaklah dalam agenda travelling kami berikutnya. dan berikutnya.

Au revoir Brussels!

Dag!

Advertisements

2 thoughts on “Brussels”

Comments are closed.