I amsterdam

I amsterdam

Foto-foto ada di Facebook

Canal & Bike in Amsterdam: A Certainty

9 AM

“If you are very smart, …bla…bla…bla…bla..bla…bla…”

terdengar teriakan dari sebuah bangunan berkaca yang kami lalui, yang bagian akhir teriakannya tidak kami hiraukan karena kami sedang sibuk memacu laju jalan kami secepatnya keluar dari area ini.Teriakan itu sepertinya diarahkan ke saya dan keluarga. Apa yang terjadi?

Saat itu saya bersama isteri dan dua anak kecil kami sedang melewati sebuah lorong kecil yang menghubungkan Oude Kerk (Old Church) dan Damrak. Teriakan itu berasal dari seorang wanita berpakaian minim yang berada di dalam ruangan kaca pamer – jika Anda tahu maksud saya. Tentu saja teriakan itu benar, saya kurang smart untuk tidak melalui jalan yang masuk dalam area Red Light District yang lingkungannya kurang baik bagi anak-anak. Sebelumnya kami mengunjungi Oude Kerk dalam acara jalan pagi mengelilingi Amsterdam.

11 PM the day before

Kami tiba malam sebelumnya dari Paris dalam acara PJKA (Pergi Jumat Pulang Ahad) ke Amsterdam dan Brussels. Maklum, Senin pagi saya sudah harus kembali bekerja untuk Qatargas di Kantor Technip di La Defense. Menggunakan TGV Thalys Kelas 2 kami tiba di Amsterdam Centraal pukul 22.43 malam setelah menempuh perjalanan 3 jam 18 menit dari Gare du Nord (North Station) Paris. Meski train sempat delay 20 menit dari jadual keberangkatan tapi itu tidak mengurangi kegembiraan kami mencoba salah satu jenis TGV dan weekend trip ke Amsterdam dan Brussels.

Amsterdam Centraal Station. Just arrived from Paris

Dari Amsterdam Centraal kami berjalan menyusuri jalanDamrak, yang tengah malam itu masih sangat ramai dengan orang yang keluar masuk stasiun atau memadati restoran fastfood, ke arah Dam Square menuju hotel Swissotel Amsterdam. Damrak adalah jalan yang membentang utara-selatan di pusat Amsterdam antara Amsterdam Centraal dan Dam Square.  Gambaran street view dari fasilitas Google Map mampu memfasilitasi saya mengingat rangkaian bangunan yang ada sepanjang Damrak: Park Hotel, Sex Museum, Turkish restaurant, souvenir shop, minimarket, Bijenkorf sampai akhirnya Swissotel yang berdampingan dengan area Dam Square, dan Madame Tussaud.

Back to 9 AM

Kembali ke teriakan mengagetkan di awal cerita, pagi itu kami sengaja bangun pagi, lalu tanpa sarapan bergegas menyusuri jalan-jalan kecil dan canal Amsterdam sesuai deng an itinerary yang saya susun sebelum berangkat. Kami sengaja bangun pagi untuk mendapatkan suasana yang tenang, jauh dari crowd sehingga bisa bebas berpose di Dam Monument, di depan Madame Tussaud, di depan Palace yang sayangnya saat itu dipasangi papan besar pelindung karena direnovasi, atau di jembatan, canal atau dekat sepeda!

Dam Monument at Dam Square
Tram is gliding at Dam Square. Shown here Madame Tussauds and Royal Palace (under renovation)

Dari Dam Square kami berjalan ke arah belakang Dam Monument, sarapan di toko roti yang sudah buka, berpose di Hash and Marijuana Museums lalu di dekat canal dan sepeda-sepeda yang sangat banyak populasinya di Amsterdam. Lalu kami mengarahkan jalan kami ke Zeinburgrawal street yang konon street strip terindah di Amsterdam. Canal, rumah-rumah mungil di sampingnya, sepeda adalah tiga obyek unik dari Amsterdam yang tidak bisa dilewatkan. Kali ini karena bertepatan dengan World Cup 2010 dan Netherland berhasil masuk final, banyak tempat di Amsterdam menghiasi bangunannya dengan hiasan orange yang identik dengan Netherland. Tulisan Hup Holland Hup (means Go Holland Go) juga tersebar di mana-mana.

Hash & Marihuana Museums
Zenburgrawal Street

Dari jalan di tepi canal terindah kami kembali berjalan ke arah Nieuwmarkt (Pasar Baru). Sabtu pagi itu di pelatarannya sedang digelar pasar terbuka, meski sayangnya baru sebatas beberapa pedagang yang mulai menggelar dagangannya. Mungkin bukanya agak siangan. Sembari duduk  istirahat kami menikmati suasana sekeliling yang cerah, agak dingin dan mulai menggeliat pagi itu. Nieuwmarkt terletak di ujung pertemuan beberapa jalan di antaranya Zeedijk. Zeedijk adalah salah satu jalan yang menjadi batas Red Light District. Karena kami mau ke stasiun via Oude Kerk maka mau tidak mau kami harus melewati daerah yang bikin jengah ini. Toko yang menjual barang mainan dewasa, CD/DVD pertunjukan dewasa, museum-museum dewasa, dan tentu saja akuarium “dewasa” bertebaran di gang-gang kecil dalam area district ini. Kami seperti mati kutu. Mau balik terlalu jauh, kalau terus atau belok kanan ke Damrak juga terkena district ini. Keputusan yang diambil untuk balik ke Jalan Damrak melalui jalan kecil sayap dari Jalan Zeedijk ternyata keputusan yang salah sehingga kami diteriaki dengan kata-kata di atas. Gereja yang kami lewati merupakan gereja yang paling tua di Amsterdam. Gereja ini, Oude Kerk (artinya Gereja Tua),  di Oudezijds Voorburgwal sekarang dikepung oleh window prostitution, sexshops, dan peepshow bar.  Jadi Anda bisa salah sangka kalau daerah dekat gereja pasti “aman”, nyatanya tidak. Justeru di belakang gereja inilah keramaian paling utama.

Oude Kerk
Hup Holland Hup at Red Light District

Pagi itu, saya memergoki dua pekerja seks komersial yang sedang bekerja, berdiri di atas akuarium dewasa dengan penutup yang minim (window prostitution), satu orang langsung balik kanan (mungkin karena melihat kami membawa anak-anak) sementara yang terakhirlah yang langsung keluar dari akuarium dan meneriaki kami. Heran bahwa sepagi itu mereka sudah buka. Ah mungkin memang nafsu dasar bisa datang kapan saja ….benar tak?

10.30 AM

Selesai melakukan morning walking tour, jam sudah menunjukkan hampir pukul 10 saat kami mengakhirinya di Amsterdam Central. Rencananya kami akan membeli kartu I amsterdam card di Tourism Office di dalam stasiun lalu menggunakan card tersebut untuk boat tour, museum atau transportasi umum. Ada juga discount khusus untuk restaurant dan sightseeing lain. Benar-benar kartu multifungsi. Kalau Anda travelling dengan anak-anak di bawah 12 tahun ada baiknya cukup membeli kartu untuk orang dewasa saja lalu anak-anak pakai ketengan saja karena beberapa museum dan tempat wisata menggratiskan tiket untuk anak-anak. Sebenarnya card ini cocok untukmereka yang punca pace cepat sehingga dalam satu hari bisa menjangkau 3-5 tempat. Kalau Anda pacenya lambat atau inginbersantai-santai, Anda mungkin tidak perlu beli card ini. Harga I Amsterdam card waktu itu adalah 38 Euro.

Tempat yang menawarkan canal cruise tour ada beberapa di antaranya Prins Hendrikkade di depan Amsterdam Central (2 operator seperti Holland International yang menerima I Amsterdam card), di jalan Damrak (3-4 operator seperti Gray Line),Rokin di dekat Spui; Stadhouderskade 25 di dekat Leidseplein. Yang menerima I amsterdam card ada di depan stasiun. Kalau anda tidak membeli I amsterdam card, Anda bisa memilih untuk membeli tiket boat tour langsung seharga 13/6.5 Euro untuk dewasa/anak-anak. Ada juga paket dinner cruise yang sayangnya tidak masuk dalam  promosi I amsterdam card.

Lain dengan hop-on-hop-off canalbus yang bisa berhenti di beberapa tempat, boat tour tidak memungkinkan untuk itu. Kalau Anda mengambil paket 100 highlights cruise, boat akan berkeliling dari stasiun sampai ke Amstel River lalu belok kanan untuk eksplore sisi timur Amsterdam, dan kembali ke stasiun 1 jam 15 menit kemudian.  Tour melewati di antaranya: pelabuhan Amsterdam, tempat parkir khusus sepeda yang bisa menampung ribuan sepeda, NeMO Science Center, Stopera, Amstel, 7 bridges, Magere Brug, dan Anna Frank-Huis .

These 7 bridges can be seen during canal tour

Di banyak canal yang cukup lebar kami juga banyak menemukan keberadaan boat house. Menurut penuturan guide ada sekitar 2500 boat house di seantero Amsterdam dan pemerintah sudah tidak memberikan ijin baru untuk  boat house. Ibarat rumah, boat house ada dengan bermacam kondisi. Ada yang tipe RSS, ada yang tipe minimalist, ada juga yang bertipe mewah. Dari jendela atau pintu yang terbuka kami bisa melihat gambaran isi boat house dari tour boat kami.

Guide juga menerangkan kenapa banyak rumah di Amsterdam punya lifting beam di atas rumahnya. Usut punya usut, sempitnya rumah, dan ruang yang memanjang ke atas membuat orang harus mengangkat barang atau furnitur lewat jendela menggunakan lifting beam.

Berbicara mengenai canal, ada 5 canal konsentrik besar yang mengelilingi daerah Old Center: the Singel, the Herengracht, the Keizersgracht, the Prinsengracht, and the Singelgracht, kesemuanya membentuk daerah Grachtengordel. Amstel river mengalir ke dalam kota dari selatan. Awalnya, sungai ini mengalir sepanjang jalur Rokin-Damrak. Dam yang ada di Amstel, yang memberi nama kota ini, dulunya berlokasi di bawah De Bijenkorf department store yang sekarang.

1 PM

Selesai tour tujuan kami berikutnya adalah Rijksmuseum di Museumplein (Museum Quarter). Awalnya kami sempat berpikir untuk menyewa sepeda (dengan discount dari I amsterdam card) di MacBike Rental di Centraal Station. Tapi karena cuaca yang panas, kami akhirnya memutuskan untuk pergi dengan tram dengan rencana stop untuk lunch di restaurant Indonesia yang memberi discount 25% dengan I amsterdam card (kayaknya saya ogah rugi banget ya…hehehe..). Sayangnya yang terakhir ini belum buka sampai jam 3 sore sementara perut sudah keroncongan. Akhirnya, ya sudahlah, kita makan siang di Turkish restaurant dengan mixed grill, dan doner kebab.

Tidak sia-sia makan di Turkish restaurant yang bikin lahap gak ketulungan, kami serasa mendapat energi tambahan untuk mengeksplore sisa waktu di Amsterdam. Menuju ke perhentian tram yang akan membawa kami ke museum, kami melewati Bloemen Market – pasar bunga setengah terapung di tepi kanal – di jalan Singel, daerah Munt Plein, mulut Amstel, yang kebanyakan menjual bunga tulip dan bibitnya. Nama lain dari tulip adalah bulb – mungkin karena bentuknya yang seperti  bohlam. Di sekitar area ini juga banyak terdapat restaurant, toko suvenir, dan tempat penjualan cheese.

Bloemenmarkt

Rijksmuseum adalah museum berkelas yang menampilkan lukisan karya Rembrandt, Johanness Vermeer atau Jan Steen dan beberapa seniman pada jaman keemasan Belanda. Ada juga koleksi seni Asia, dan obyek-obyek menarik dalam museum seperti adalah dolls house, dan perahu perang. Kisah peperangan Netherland digambarkan di beberapa lukisan besar. Di akhir rute museum terdapat obyek menarik berupa potret tiga orang jawa yang digambarkan langka karena berpose dengan rasa percaya diri yang tinggi dan optimis, berbeda dengan kebanyakan orang Jawa pada jaman itu.

Sayangnya museum tidak memberikan kebijakan boleh memfoto, yang tidak saya ketahui sampai saya berhasil menjepret 3 obyek….hehehe….

One of the collections in Rijksmuseum

Masih dalam area museum plein adalah museum tentang Vincent van Gogh,pelukis Post-Impressionist Belanda. Tapi kami memutuskan tidak ke sana karena mengejar jam tutup sience center Nemo jam 6 sore. Sempat nyasar waktu mau berpindah dari tram ke bus, setelah hampir 1 jam kami akhirnya nyampe di Nemo 45 menit menjelang tutup. Akibatnya anak-anak pada protes: harusnya lebih banyak waktu di sini nih….

5 PM

Nemo adalah science center terbesar di Netherland.  Tidak seperti Cite des Science di Paris yang dibuat hanya dalam bahasa Perancis,  Nemo dibuat dengan dua bahasa: Belanda dan Inggris sehingga memudahkan anak-anak. Dengan lima lantai,ada banyak yang ditawarkan Nemo. Di lantai pertama, konsepnya adalah DNA dan chain reactions. Lantai dua berisi ball factory, performance hall, dan water cycle. Laboratorium sains besar dan seksi tentang uang dan bisnis ada di lantai tiga. Lantai empat adalah tempat bagi eksperiment dan sains tentang pikiran manusia. Di lantai lima atau upper deck, Nemo membuka atapnya (yang berundak-undak besar) untuk umum. Di summer time seperti ini, atap Nemo yang berada di lantai 6 buka sampai malam meskipun orang harus menggunakan tangga undak (bukannya lfit) jika datang setelah jam tutup Nemo. Atap terbuka ini seringkali digunakan orang untuk sekedar duduk, untuk berjemur, atau buat anak-anak bermain air di sepetak kolam dan pancuran. Meskipun dari sini kita bisa melihat Amsterdam dari atas, pemandangannya tidaklah terlalu fantastis.Lokasi atau ketinggiran yang kurang mungkin penyebabnya.

NEMO & Replica of VOC Ship

Dari Nemo kami berjalan kaki sekitar 900m melewati jembatan besi yang menarik dan hotel terapung bercorak chinese ke stasiun untuk naik tram kembali ke hotel. Istirahat dulu jek, bersih-bersih sebelum ke tujuan berikutnya: Madame Tussaud. Pembangunan metro station di depan Central Station ynag sudah berlarut-larut cukup mengganggu pejalan kaki dan terutama pemandangan ke arah stasiun. Konon insinyur Belanda kesulitan menaklukkan lingkungan air dan laut sebagai fondasi dan ruang bawah tanah metro station.

7 PM

Madame Tussaud yang akan kami kunjungi letaknya di area Dam Square hanya sepelemparan batu (tergantung yang ngelempar kata temen saya) dari hotel kami menginap. Tapi bener kok, praktis hanya dipisahkan oleh plaza di depan palace dengan hotel kami. Madame Tussaud adalah museum patung lilin. Museum ini juga masuk dalam promosi I amsterdam card, tapi saya membeli online sehingga mendapat potongan yang lebih besar sedikit.Kalau musim summer seperti ini, museum tutup jam 8.30 sore (ya maklum karena sunset berlangusng jam 10 malam). Koleksi patung lilin tersebar di empat lantai gedung. Yang tidak boleh dilewatkan adalah pemandangan ke arah Dam square dan Damrak dari jendela kaca bundar di lantai atas gedung. Sambil memandangi Dam Square Anda ditemani (patung) Victoria Beckham dan Elle MacPherson.

A commanding view from a window of Madame Tussaud shouldn't be missed

Beberapa figur penting yang dipatunglilinkan adalah: raja dan ratu Belanda, Pope, Nelson Mandela, Dalai Lama, Mahatma Gandhi, beberapa figure terkenal local (seperti Rembrandt), atlet-atlet seperti Lance Amstrong, Ronaldinho, Beckham, selebritis seperti Robby William, Brad Pitt dan Angelina Jolie, Bon Jovi, Marlyn Monroe, Madonna, Jacko, Bob Marley, Brosnan, Lady Di.

Try to mimic Ronaldinho at Madame Tussaud

Madame Tussaud juga manawarkan atraksi Dungeon (alias petualangn seram dengan hantu jadi-jadian yang mengejutkan). Tapi kami tidak masuk ke dalamnya; takut anak-anak gak bisa tidur….hehehe…

Museum saat itu sepi, entahlah apa karena tiket yang lumayan mahal atau mereka lebih banyak masuk museum pas pagi atau siang hari. Kalaupun ada yang tidak mengenakkan dari museum ini adalah petugas suvenir yang sedikit maksa untuk menawarkan service foto bersama “Obama” maupun grafir foto 3 dimensi dalam kristal.

8 PM

Keluar dari Madame Tussaud jam 8-an malam kami sudah tidak bisa bershopping ria  karena toko-toko di mal tutup jam 7 malam. Padahal di luar sana matahari bersinar terang karena sunset di summer time ini sekitar jam 10 malam. Tidak berhasil dengan shopping di mal kami maksain last minute shopping di toko suvenir sebelum makan malam di – lagi-lagi – Turkish halal restaurant di Damrak. Jika membawa anak-anak, hati-hati di toko suvenir karena ada banyak suvenir yang berhubungan dengan orang dewasa (XXX) dan permen atau makanan yang berhubungan dengan marijuana.

END

Jadi demikianlah kisah tur PJKA kami di Amsterdam. Kalau Anda tidak mendengar banyak cerita tentang Red Light District dan Sex Museum yang tersohor, itu karena saya memutuskan untuk tidak berpartisipasi memberikan kelangsungan hidup ke sesuatu yang tidak sejalan dengan prinsip saya…..ceile.Tapi kalau Anda mau, ada tur malam jam 8 dan 10 ke distrik tersebut berangkat dari Damrak. Tur mencakup testimoni dari bekas prostitute, lalu guided tour ke area dengan “akuarium prostitutes”. Ingat lho foto dilarang dan ceritanya banyak tidak segan2 untuk merampas kamera jika Anda berani mencoba mengambil gambarnya. Menurut buku guide di hotel yang saya baca, para prostitutes menyewa etalase akuarium ini seharga 100 Euro per hari. Mereka berusaha menutupi biaya ini (dan biaya kontrol kesehatan regular – karena diwajibkan UU) dari tarif short service 50 Euro per jam? Meski profesi ini dilindungi dengan UU dan menjadikan Amsterdam terkenal karenanya, pemerintah berusaha menguranginya.

Jikalau ada yang berkesan dari Amsterdam, itu tidak lain tentang canal, museum, rumah perahu, dan rumah sempit di tepiannya, dan tentu saja serakan sepeda-sepedanya. Dan bagi anak saya dengan Science Center Nemonya juga. Tidak banyak keluarga dengan anak-anak yang saya lihat berkeliaran di Amsterdam. Meski ibukota Belanda ini (meskipun bukan tempat duduk pemerintahan yang justru  ada di The Hague),  berusaha meyakinkan bahwa kota ini “aman” dan “nyaman” untuk keluarga, tapi mereka yang berasal dari kultur timur atau yang konservatif pasti akan kesulitan untuk mau mengunjunginya.

Amsterdam's lovely houses by the canal is photographer's treasure

Obyek utama Amsterdam berada di Old Center yang merupakan area konsentris setengah lingkaran berjari-jari 1 km dengan Amsterdam Centraal Station sebagai pusatnya. Semua tujuan wisata utama, kebanyakan hotel berlokasi di daerah ini atau sedikit di luar daerah ini. Akibatnya sebagian besar daerah Amsterdam tidak pernah dikunjungi turis dan  bisa dipastikan hampir semua turis yang mengunjungi Amsterdam end up di Old Center. Di luar obyek dalam kota Amsterdam Anda juga bisa mengunjungi windmill, cheese maker, klompen maker, Madurodam di luar kota Amsterdam. Sayangnya karena program PJKA saya tidak sempat ke sana karena paling tidak lebih dari setengah hari dibutuhkan.

Nevertheless, mengunjungi Amsterdam adalah mengunjungi sisi lain sebuah kota di dunia; kota sepeda, kota kanal, kota liberalism.  Dan saya beruntung bisa mengunjunginya di satu Sabtu di bulan July 2010.

Advertisements

4 thoughts on “I amsterdam”

  1. yth. mas wahyu,
    saya dan fam total 4 dewasa ada rencana jalan2 ke amsterdam dan paris.
    rata2 budgtet hote brapa ya?
    enakan ikut tur agent atau cari transport sendiri?
    yg jelas ikut tur agent pasti lebih mahal.. klu cari sendiri biasanya lbhmurah.

    say dan fam memang sdh pernah ke sydney, hongkong, singapore, beijing.. dan tidak pernah pake tur agent…..berpetualanglah gitu agar irit dikit.

    public transport di ams dan paris , gimana ya ? susah? mahal?

    klu ada waktu mhndijawab ya
    tks so much …….n enjoy your life in qatar.

    salam dari bali
    ketut suantara

    1. Blih Ketut,
      Saya juga senang meng-arrange itinerary dan tour sendiri ; bisa mengatur diri sendiri mau cepat atau lambat…hehehe…tergantung keperluan. Lebih murah tentu saja tapi konsekuensinya harus matang persiapan otherwise waktu bisa hilang gara-gara kesasar 🙂
      Di Amsterdam saya sarankan kombinasi antara tour dan self-arrange. Tour misalnya kalo mo pergi keluar dari Amsterdam pusat (i.e. ngeliat windmill, pembuatan bakiak dan keju), atau atraksi tertentu (i.e. Red Light District tour). Untuk di dalam Amsterdam semuanya bisa diarrange sendiri dan terkonek dengan public transport.
      Di Paris, saya hanya pake tour untuk Seine River tour dan Open Bus tour. Sisanya rely on metro, dan RER karena hampir semua lokasi atraksi within public transport reach and walking distance. Public transport murah kok ….tapi kalo berempat dan tujuannya perlu banyak pindah taksi bisa juga jadi moda yang lebih baik.
      Hotel tergantung season sih…saya sekeluarga (dengan 2 anak) spend antara 85-130 Euro per day. Untuk 4 dewasa mungkin apartment bisa jadi andalan. Kalo budget hotel pasti bisa di bawah itu.
      Semoga membantu. Selamat jalan-jalan!

  2. Yth Mas Wahyu
    Saya rencana ke amsterdam dari paris pada hari sabtu. Rencana naik thalys. apa sebaiknya thalys pesan dulu ( booking) atau bisa beli langsung. Kalau di amsterdam mohon rekomendasi hotel. saya pergi sendirian.Salam

  3. Mas Fauzi, Anda sekarang ada di Paris? Kalo iya ada baiknya pesan jauh hari karena makin banyak option diskonnya. Kalo sendiri di Amsterdam sih banyak banget pilihan hotelnya. Saran sih yang gak jauh dari Central Station atau di jalan damrak. Coba deh booking.com tuk liat option hotelnya. Saya dulu nginep di Sofitel deket Madame Tussaud karena bawa keluarga. salam

Comments are closed.