Buongiorno Milan!

Buongiorno Milan!

Foto-foto ada di Facebook

Mengunjungi Milan, 17 July 2010, saya teringat buku Elizabeth Gilbert “Eat Pray and Love”. Dia bilang bahasa Italy adalah bahasa yang paling indah didengar. Dan saya sependapat dengannya. Naik bus Malpensa shuttle dari Malpensa Airport ke Piazza Luigi di Savoia (di samping Stazione Centrale), saya pertama kali mendengar bahasa yang indah ini dari mulut penduduk lokal langsung. Lalu apakah Milan seindah bahasanya?  

Tidak seperti bahasa Perancis yang jauh tulisan dari ucapannya, membuat saya tergagap-gagap mengejanya sembari berpikir kenapa hidup mesti dibuat lebih susah (untuk orang asing tentunya  J)  –  Bahasa Italy adalah bahasa phonetic, yang tertulis hampir sama dengan yang diucapkan, kecuali beberapa pelafalan seperti C yang dibaca ‘k’  jika berada di sebelum a, o dan u dan sebagai ‘ch’ sebagaimana pada ‘choose’ sebelum e dan i, g seperti ‘get’ sebelum a, o, u, dan seperti ‘gem’ sebelum e dan i. Ada beberapa pronunciation yang tidak sulit lainnya. Nah Anda sekarang bisa mengkoreksi pronunciation yang salah dari komentator Serie A Liga Calcio J

Kami mendarat di bandara Malpensa dengan pesawat easyJet dari Paris Charles de Gaulle (CDG), bandara utama Paris. Malpensa  Airport ini berada di barat laut Milan sekitar 40-an km dari Milan. Airport lain yang terkenal adalah Bergamo dan Linate. Maskapai Ryanair salah satu budget airline berbasis di Bergamo, lebih jauh lagi, sekitar 50km dari Milan (yang akhirnya menjadi alasan kami memilih easyJet). Dari Malpensa ada beberapa alternatif ke Milan: bisa naik kereta api Malpensa Express (hanya tersedia sampai 8.20 malam) ke Stazione Nord dekat Castello Sforzesco, taxi (yang agak mahal – sekitar 80 Euro) atau shuttle bus (bertarif 7.5 Euro) ke Piazza Luigi di Savoia (Milano Stazione Centrale). Kami memilih yang terakhir. Perjalanan bus shuttle memakan waktu 50 menit.

Milano Stazione Centrale

Karena kota bisnis, Milan mengenal musim peak dan low season berdasarkan season business. Peak season terjadi ketika ada exhibition, fashion festival dan musim libur umumnya (Christmas/New Year). Summer di bulan July atau Agustus Milan justeru agak sepi karena penduduknya banyak yang keluar untuk vacation dan hampir tidak ada aktifitas bisnis besar berlangsung. Tak heran di low season hotel pada banting harga. Hotel yang saya pilih misalnya, UNA Century di dekat Milano Centrale satation (belakang gedung Pirelli), banting harga dari 500 Euro ke 141 Euro (incl breakfast and tax) untuk Family Suite! Bayangkan penurunan harganya!

Kalau Anda bermalam di Milan, pilihan hotel ada dua: dekat Stazione Centrale sehingga Anda cukup jalan kaki dari tempat kedatangan bus shuttle dari airport atau kereta api, atau dekat Piazza del Duomo tempat tujuan turis utama.

Keesokan pagi, seperti biasa kami mencari tempat penitipan bagasi di stasiun terlebih dahulu agar tidak direpotkan dengan bawaan dan bolak-balik hotel stasiun (sorenya kami akan ke Venice dari stasiun ini). Stasiun ini terhubung dengan jalur metro MM3  (kuning) ke Duomo (http://www.atm-mi.it/en/Pages/default.aspx) . Pilihan 1-day ticket adalah yang terbaik dan termurah. Hanya dengan 3 Euro Anda bisa menikmati sepuas mungkin public transport di Milan (metro, tram, bus) selama 24 jam. Lebih murah dibanding Paris atau Brussels. Saya membelinya di tobacconist (semacam kios rokok) tapi Anda juga bisa membelinya di counter sales atau vending machine dengan harga yang sama. Rencana kami seperti biasa self-arranged tour demi fleksibilitas dan efisiensi.

Duomo

Piazza Duomo masih sepi ketika kami menjejakkan kaki di pelatarannya sekitar jam 8-an pagi. Inilah gunanya pergi pagi-pagi. Alhasil kami dengan bebas berpose tanpa gangguan dari lalu lalang orang di Piazza ataupun di dalam Galleria Vittorio Emanuele. Bahkan di galleria kami sempat-sempatnya berfoto bersila di koridornya karena sepinya pengunjung.

Duomo

Daerah Piazza Duomo adalah atraksi turis utama Milan. Di sini terdapat landmark Milan: Duomo, gereja katedral terbesar di dunia yang dibangun sejak 1386. Di samping kanannya adalah Galleria Vittorio Emanuele, galeri shopping kuno tapi glamorous dan selanjutnya Teatro della Scala. Sementara sebelah kiri Duomo adalah museum.

Jika Anda tertarik pada gereja, Gereja Duomo yang berkapasitas 40 ribu ini bisa dimasuki oleh pengunjung. Bahkan pengunjung dapat naik ke atap gereja ini yang dipenuhi dengan 135 Gothic spires.  Gereja ini juga memiliki 3500 patung dan 155 gargoyles (a gargoyle is a carved stone grotesque with a spout designed to convey water from a roof and away from the side of a building). Gereja  sebenarnya membuka diri sejak jam 8.30 pagi tapi kami memutuskan untuk tidak masuk karena sesuatu hal pribadi. Harga tiket ke atap gereja adalah 5 Euro pakai tangga, atau 8 Euro pakai lift.

Puas berfoto dan memfoto di luar gereja Duomo kami berjalan ke dalam Galleria. Area high-end shopping beratap kaca ini juga masih sepi, dan belum banyak yang buka kecuali toko buku dan sebuah kafe kecil. High end brand seperti Prada, Louis Vitton ada di sini. Sementara yang lain adalah restaurant dan café dan hmmmMcD juga ada di sini.

Galleria Vittorio Emanuele

Di belakang Galleria adalah Piazza de la Scala dan Theater Scala. Scala adalah opera house paling terkenal di dunia, pertama kali dibuka pada 1778. Bintang seperti Maria Callas dan Pavarotti pernah tampil di sini. Di taman bundar Piazza de la Scala Anda bisa juga melihat patung Leonardo da Vinci yang impresif.

Piazza della Scala. Leonardo's statue as a background

Kami lalu memutari galleria, ke Via Radegonda menengok tempat Panzerotti terenak dijual. Tokonya  (Luini) (http://www.luini.it/) masih tutup (karena baru buka jam 10 pagi) tapi at least kami sudah tahu karena rencananya kami bakal balik lagi setelah dari San Siro. Panzerroti adalah semacam pastel yang berasal dari Itali bagian tengah dan selatan. Luini kemudian membawa panzerotti ke Milan pada tahun 1940. Isi panzerotti umumnya tomat, dan mozzarella tapi kadang diisi juga dengan bayam, jamur, jagung, dan daging. Saking terkenalnya Luini antrian panjang terlihat mengular sampe keluar jalan. Tapi jangan kuatir, pelayan cepat dan makanan yang siap saji membuat waktu tunggu yang tidak terlalu lama.

San Siro

Kami lalu melewati bagian samping kiri Duomo, lalu ke belakangnya membeli beberapa suvenir kecil Milan, terus ke samping kiri Duomo melewati museum dan berakhir di Jalan Dogana untuk mengejar tram 16 ke San Siro. Agaknya kami salah karena yang di jalan Dogana ini arah yang sebaliknya. Untungnya kami berhasil menemukan tram 16 arah ke San Siro tidak jauh dari Jalan Dogana. Tidak seperti jalur metro, jalur tram – mungkin saking banyaknya – jarang yang dicantumkan dalam buku panduan perjalanan. Meki demikian Anda bisa menemukan jalur tram di website atm di atas (dan pilih tab Giromilano), meski tidak terlalu print friendly. Alternatif lain ke San Siro adalah menggunakan metro merah (M1) ke Lotto Fiera Station lalu jalan kaki 15 menit menyusuri Via Gavirate dan Via dei Rospigliosi.

Untuk menggunakan tram, kami perlu memasukkan tiket ke dalam mesin validasi di dalam tram. Anehnya mesin ini jauh dari driver jadi kurang terpantau sehingga banyak pengguna yang tidak memvalidasi tiket. Perjalanan tram ke San Siro dari Duomo memakan waktu kurang lebih 35 menit dan tram ini berhenti persis di halaman luar stadion. Namun perlu diperhatikan bahwa jika ada pertandingan bola tram hanya akan berhenti di metro terdekat (Lotto) lalu dari sana perlu jalan kaki 15 menit atau mengambil shuttle bus.

Entah mimpi apa semalam, atau karena persiapan yang kurang, kami tidak mengetahui kalau San Siro stadium sedang ditutup karena akan ada concert music Ligabue. Beberapa turis tampak kecewa ketika meninggalkan San Siro tanpa berhasil masuk ke dalam stadium. Alhasil kami  pun harus puas mengelilingi San Siro stadium dan mengambil foto stadium dari luar saja.

San Siro Milan

Isteri saya yang (dulu dan masih?) penggemar berat AC Milan tampak tidak bisa menyembunyikan kekecewaaannya. “Tapi at least kita sudah pernah ke San Siro sayang”, kataku menghibur.

Santa Maria delle Grazie dan Castello Sforzesco

Kami lalu balik ke Milan dengan tram yang sama. Berhenti sebentar di Santa Maria delle Grazie di Corso Magenta untuk mengambil foto lalu melanjutkan perjalanan ke Castello Sforzesco melalui Cadorna. Santa Maria delle Grazie dibangun pada abad 15 dengan gaya Lombard Gothic. Gereja ini terkenal karena adanya lukisan The Last Supper (Cenacolo Vinciano) karya Leonardo da Vinci. Untuk melihat lukisan yang dibuat antara 1494-1498 ini Anda harus booking beberapa bulan sebelumnya mengingat  tingginya permintaan. Kami tidak masuk untuk melihat lukisan ini.

Santa Maria delle Grazie

Castello Sforzesco adalah tempat tinggal keluarga penguasa Sforza-Visconti yang dibangun pada abad 15. Sekarang bangunan bersisi empat ini menjadi tempat beberapa museum applied arts, ancient art, historical musical instruments, prehistory, Egyptian art and fine arts. Di ujung belakang kastil, melintasi kebun (kurang lebih 500m di belakang kastil) adalah Porta Sempione, bangunan Neoklasik yang dibangun untuk memperingati Napoleon. Sayangnya kami tidak mengunjunginya karena cuaca panas yang menguras energi.

Di musim panas seperti ini, water fountain dan penjual es krim di depan Castello menjadi favorit pengunjung untuk mendinginkan badan luar dan dalam. Tak memedulikan paparan UV kami pun larut dalam pendinginan badan, luar dan dalam.

Castello Sforzesco

Castello Sforzesco dapat diakses melalui metro station M1 (merah) Cairoli.

Corso Buenos Aires & di Brera

Setelah mencicipi panzerotti, kami bergegas ke Corso Buenos Aires, salah satu more affordable shopping strip di Milan, dalam misi melihat (tidak belanja?) toko-toko fashion. Di sini yang banyak adalah chain stores seperti Swarovsky, H&M, United Colors of Benetton, Adidas, Nike, Calvin Klein, Zara, Luisa Spagnoli. Sempat kebingungan mencari jalur metro merah (linea 1) di Duomo station, kami tiba di Porte Venezia station, ujung bawah dari jajaran toko-toko fashion yang mengundang.

Udara panas yang tidak nyaman, pun ketika kami makan di restaurant Turki terdekat,  membuat kami hanya sekelebat saja menyusuri Buenos. Sampai akhirnya kami mencari perlindungan dari panas di taman umum (Giardini Pubblici)  yang di dalamnya terdapat Planetario dan Museo Civico di Storia Naturale. Air kran yang banyak tersedia di taman juga membantu kami memerangi panas dan haus.Beberapa orang tampak terlelap di bangku taman, dialun semilir angin pepohonan rindang. Duh enaknya…tapi kami harus jalan kembali.

Kunjungan terakhir kami rencananya adalah daerah di Brera. di Brera adalah tempat di mana Palazzo di Brera dan Brera Art Gallery (Pinacoteca) berada.  Untuk menjangkau di Brera kami harus berhenti di stasiun Montenapoleone dan kemudian menyusuri jalan bebatuan.  Palazzo di Brera dibangun pada abad 17. Di halaman tengahnya terdapat patung perunggu Napoleon. Palazzo di Brera bisa dikatakan sebagai kontainer budaya dan artistic dari Milan.

Pinacoteca di Brera. Shown here inner yard with Napoleon broze statue

Dari stasiun Montenapoleone sebenarnya Anda hanya seperjalanan kaki dari Golden Quad ( Quadrilatero d’Oro), daerah shopping mahal sekali yang dibatasi oleh Via della Spiga, Via Sant’Andrea, Via Monte Napoleone dan Via Alessandro Manzoni. Idealnya sih Anda pergi ke sini menggunakan kartu kredit orang lain…hehehehe.

Arrivederci Milan!

Sore itu kami benar-benar exhausted karena udara yang panas dan jalan kaki sepanjang jalan. Beberapa hari kemudian kami juga baru sadar bahwa badan kami agak gelap akibat terpaan UV matahari yang tidak kami hiraukan. Milan yang kami kunjungi baru saja tidaklah seglamour yang saya bayangkan sebelumnya. Kota terbesar kedua Italy ini tidak semetropolitan Jakarta atau Singapore. Kami juga gagal shopping fashion karena terlalu sibuk menghabiskan must-see list, itu pun belum semua. Kalau Anda punya waktu banyak di sini saya menyarankan Anda untuk mengunjungi Museum Leonardo da Vinci (Museo della Scienza e della Tecnologia) dekat stasiun S. Ambrogio, atau I Navigli untuk menghabiskan malam.

Tiba di stasiun, kami mengambil barang bawaan di loker lalu bergegas ke toilet berbayar (1 Euro) untuk berbersih diri sebelum bersiap masuk kereta Trenitalia yang akan membawa kami dalam perjalanan 2 setengah jam ke Venice.  Arrivederci! Good bye Milan.

Travel References:

–          Wikitravel Milan – http://wikitravel.org/en/Milan

–          Italylogue – http://www.italylogue.com/milan

–          About.com Italy Travel http://goitaly.about.com/od/moreitaliancities/p/milan.htm

Advertisements

Get Lost in Venice

Lihat semua foto Venice di Facebook

Ungkapan bahwa kita pasti tersesat di Venice tidaklah sepenuhnya benar. Jika Anda memegang peta yang akurat (seperti yang saya beli di paris, atau Anda bisa membeli di tempat penjualan tiket vaporetto) Anda tetap akan bisa menavigasi Venice dengan hampir 117 pulau, 150 canal dan 400 jembatannya. Meski demikian jika Anda ingin menikmati sejatinya Venice, keluarlah dari jalur-jalur turis, pergi ke jalan-jalan sempit nan sepi, lihat rumah-rumah asli penduduk, dan canal-canal yang digunakan untuk transportsi penduduk dan bukan turis. Idealnya Anda harus membuang peta dan biarkan Anda tersesat. Toh tersesat-sesatnya Anda tidak akan keluar dari Venice, pun karena banyak papan petunjuk yang mengarahkan Anda ke Piazzale Roma (terminal bus), atau Rialto dan San Marco. Jadi jangan kuatir.

Tapi inipun tidak saya lakukan. Saya tetap memegang peta, tapi berusaha keluar dari jalur turis dalam perjalanan pulang ke stasiun dari Accademia. Apakah kami tersesat?

Satellite Map of Venice. The main island is approximately 5 km x 2.4 km. The inverse S canal is Grand Canal. At the lower end of this canal is San Marco, upper end is Santa Lucia station. Further left from station is Piazalle Roma. Right bottom corner is Lido. Murano is above small island near the mid-top. (Source: Wikimedia Common)

17 July 2010. Treintalia (http://www.ferroviedellostato.it/homepage_en.html) yang membawa kami dari Milan tiba di stasiun Santa Lucia Venice pukul 8 malam. Bangunan stasiun ini bisa dikategorikan modern, jika dibandingkan dengan bangunan di sekitarnya. Stasiun yang didirikan di bekas gereja Santa Lucia ini tidaklah besar, efektifnya hanya satu lantai dan tidak terlalu punya desain menarik tapi fungsional; ada food court kecil, luggage deposit, counter tiket dan penukaran uang, dan beberapa toko suvenir. Ruang terbuka di depan stasiun terhubung dengan Grand Canal. Sore hari Anda akan melihat banyak orang duduk-duduk di anak tangga stasiun, menikmati hilir mudik orang dari dan ke Piazalle Roma.Yang pasti stasiun ini perlu rehabilitasi! Signage tidak memadai, dan perubahan-perubahan telah mengubah kualitas dan image stasiun ini.

Hotel kami hanya kurang dari 5 menit jalan kaki dari stasiun: menyusuri canal lalu belok kiri di jalan pertama ke kiri. Bukan jalan sebenarnya tapi gang selebar bentangan tangan. Kami sengaja pilih hotel dekat stasiun biar cepat sampai hotel tanpa perlu transfer naik vaporetto atau water taxi. Di Venice, mobil dan bus hanya bisa menjangkau sampai Piazalle Roma, ujung dari 5-km jalan mobil dua jalur dan jalur kereta api yang menghubungkan Venice dengan daratan Italy. Hotel kami ini pun tidak terletak di pinggir grand canal. Kami tidak sanggup mendapatkan kamar di hotel di pinggir grand canal karena selain fully booked, mereka memasang tarif gila-gilaan. Untuk yang canal view mulai dari 400-an Euro. Hotel kami, Stella Alpina, memasang tarif 195 Euro untuk 4-person room including breakfast. Cukuplah untuk tidur satu malam. Venice memang kota mahal, kata Lonely Planet.

Dari majalah di pesawat  easyjet saya baru tahu kalau lagi ada festival di Venice (Festa del Redentore ) dengan puncaknya kembang api di perairan dekat San Marco. Kata petugas hotel kembang api akan dimulai jam 11 malam. Dan karenanya Grand Canal akan ditutup untuk transportasi. Satu-satunya cara ke sana ya jalan kaki selama kurang lebih 35 menit. Meski terdengar menarik, sepertinya kami cenderung untuk istirahat secara sudah exhausted karena Milan.

Menghabiskan malam pertma dan terakhir di Venice, kami pergi makan malam, berfoto di jembatan (salah satu dari 3 jembatan di Grand Canal, atau 4 jika jembatan modern di Piazalle Roma dihitung), melihat hilir mudik gondola, vaporetto dan water taxi di Grand Canal dan berjalan santai menikmati suasana malam. Kami seakan tidak percaya bahwa ini bukan mimpi, dan tidak palsu layaknya Villagio Mall di Doha. Kami di Venice! Dan ini nyata….

Venice. Grand Canal near Santa Lucia station at night

Saat kami mulai melelapkan diri, di luar sana sepertinya kembang api mulai berletusan di langit Venice. Suaranya bersahut-sahutan selama hampir satu jam menyelusup melalui jendela kayu tua kamar hotel kami. Biarlah, rasa lelah akibat Milan sudah tidak bisa ditanggulangi. Daripada besoknya tidak bisa menikmati Venice, terutama anak-anak, kami biarkan acara kembang api ini lewat. Dari mencuri dengar pembicaraan orang Indonesia di San Marco esoknya, orang baru bisa balik ke hotel jam 2 dini hari.

Pagi pertama kami dan sekaligus terakhir di Venice. American breakfast yang disediakan hotel lumayan mengisi perut kami. Setelah checkout dan menitipkan barang kami segera bergegas keluar. Masih jam 8-an pagi saat itu. Kegiatan pertama: membeli tiket vaporetto (atau water bus). San Marco yang menjadi tujuan kami dilalui oleh line (linea dalam Italy) 1. Untuk tiket satu hari tarifnya 18 Euro, one way 6 Euro. Kami memilih one way karena rencananya kami hanya akan menggunakannya sekali dan akan jalan kaki dari San Marco ke Piazalle Roma di akhir perjalanan. Meski judulnya one-way tapi Anda bisa menggunakannya untuk naik turun vaporetto selama masih dalam batas 1.5jam. Lagi-lagi seperti Milan penggunaan tiket berdasar azas kejujuran, dengan memvalidasi tiket di mesin validasi dan tidak adanya petugas pemeriksa.

Selain rute ke San Marco, ada juga line ke Lido (terkenal karena beachnya) dan Murano (terkenal karena glass blowing-nya). Lido adalah semacam pulau buatan yang dirancang untuk melindungi Venice dari pajanan Laut Adriatik secara langsung. Sementara Murano, juga pulau lainnya, layak dikunjungi jika Anda tertarik melihat industry glass blowing. Hanya saja saat ini serbuan barang-barang seni gelas dari China membuat Anda mesti hati-hati jika membelinya. Pastikan barang gelas Murano yang Anda beli bersertifikat dan memang asli dari Murano.

Vaporetto berhenti di vaporetto stop setiap 200-300 meter dengan rute kebanyakan zig-zag, dari sisi kanan ke sisi kiri begitu seterusnya. Anda bisa memilih duduk di dalam ruangan tertutup berjendela kaca atau di palka beratap. Best view adalah di bagian buritan kapal.

Canal & Gondola, one of the Venice's landmark

Tidak lebih dari 30 menit kemudian, melewati Grand Canal yang membentuk alur S terbalik dari stasiun ke San Marco,  kami tiba di Piazza San Marco, yang menurut Napoleon adalah “ the best European lounge”. Kompleks wisata utama Venice ini terdiri dari Basilica di San Marco , Campanile di San Marco, Palazo Ducale dan Museo Correr.

San Marco from vaporetto

Nama lengkap Basilica adalah Basilica Cattedrale Patriachale di San Marco. Ia merupakan gereja katedral dari Katolik Roman Venice, dan contoh dari arsitektur Byzantine. Basilica yang dibangun pertama kali pada 828 ini terhubung dengan Palaza Ducale (Doge’s Palace).

San Marco

Untuk masuk Basilica sebenarnya gratis. Hanya saja antrian yang panjang, untuk durasi kunjungan yang dibatasi 10 menit, mungkin membuat Anda berpikir ulang. Ada beberapa website yang menawarkan booking tiket (dengan biaya hanya 1 euro) sehingga pengunjung bisa mem-bypass antrian. Sayangnya untuk masuk ke museum dan high altar dan treasury di dalamnya ada biaya tambahan 2-3 Euro. Kami tidak masuk ke Basilica.

Di seberang Basilica adalah Campanile. Campanile adalah bell tower. Konon di sinilah Galileo Galilei mendemonstrasikan teleskopnya. Campanile yang sekarang adalah rekonstruksi  di tahun 1912 dari tower yang runtuh pada  tahun 1902. Dengan tinggi 98.6 meter, sebagian besar adalah menara bata merah, campanile adalah simbol yang paling mudah dikenali di Venice.

Campanile

Waktu terbaik adalah pagi-pagi seperti yang kami lakukan sehingga kami langsung masuk ke dalam campanile tanpa antrian sama sekali. Cuma perlu diperhatikan kalau Anda mengunjungi pas jam menunjukkan 00 menit Anda akan dipaksa mendengarkan dentangan kencang dari 5 bel besi besar yang tergantung tepat di atas tempat kita melihat-lihat Venice dari atas. Camponile adalah must-see menurut saya. Dari ketinggian 98,6 meter itu, Anda bisa melihat sekeliling Venice dengan sempurna: daratan Italy di kejauhan, Laut Adriatik, beberapa pulau sekeliling Venice, rumah-rumah yang dikeliling canal-canal, dan tentu saja Piazza San Marco.

From Campanile. Shown here Piazza San Marco

Palazo Ducale (Duke’s Palace), adalah istana gotik tempat tinggal Duke of Venice. Ada tour yang bernama Secret Itinerary (dari 16 Euro) menawarkan kunjungan ke dalam Palazo Ducale; melihat bagian dari istana di mana administrasi kota bekerja, penjara Casanova dan struktur atap berusia lima ratus tahun. Yang ini sebenarnya must-see juga, cuma waktu tour yang agak panjang, hampir dua jam, membuat kami urung melakukannya. Jika Anda punya waktu 2 hari saya menyarankan untuk mengambilnya. Tapi perlu diingat bahwa jika kunjungan pas musim panas, kondisi di dalam gedung bisa sangat panas dan gerah. Palazo Ducale juga terkenal karena Bridge of Sighs (Ponte dei Sospiri) yang menghubungkan istana dengan sayap tambahan penjara kota. Disebut demikian karena desahan atau keluhan tahanan yang melewati jembatan ini. Desahan yang muncul karena para tahanan tahu inilah saat terakhir kali mereka melihat Venice melalui kotak-kotak kecil lubang angin pada dinding yang melingkupi jembatan. Sayangnya waktu kami mengunjunginya, jembatan ini terkepung oleh billboard besar warna biru yang merusak konektifitas aristektural bangunan dan jembatan.

Di ujung barat piazza terdapat museum yang bernama Museum Correr. Museum ini menawarkan koleksi menarik bola dunia dari sejak abad ke-16, benda-benda antic Roman dan galeri lukisan.

Seperti layaknya pusat turis, di San Marco Anda pun bisa menemukan kios-kios souvenir, dan café-café yang menawarkan pemandangan langsung ke Piazza. Tentu saja, ini ada harganya.

Puas mengelilingi dan mengambil foto San Marco, kami melanjutkan perjalanan untuk menambah koleksi shot glass Hard Rock Café.  Sempat nyasar juga sampai menemukan Teatro La Fenice dan San Fantin sebelum menemukan Hard Rock Cafe yang ternyata berada tak jauh sebelah utara dari Museum Correr.

Dari sini kami lalu mengikuti arus orang ke Rialto Bridge (Ponte di Rialto). Dengan banyaknya gang yang selalu bermuara ke Grand Canal, ada banyak cara dari San Marco ke Rialto. Jadi jangan heran kalau Anda mendapati tanda panah arah ke Rialto yang saling berlawanan. Tapi tidak perlu kuatir, tanda itu semuanya benar. Sepertinya, banyak pemilik usaha yang memasang tanda tersebut untuk mengarahkan orang lewat tempat usahanya.

We, Gondola, and Rialto Bridge

Rialto Bridge memiliki sejarah yang merentang 800 tahun dan menjadi salah satu ikon paling dikenal dari Venice. Jembatan busur berlajur dua ini mungkin jembatan tersibuk di Venice selain jembatan yang menghubungkan train station dan terminal Piazalle Roma. Di sini Anda bisa menemukan pasar traditional, makanan setempat dengan harga agak bersahabat, atau tempat naik gondola.

Cobalah naik ke jembatan, berdiri menghadap canal dan berdiam diri sejenak mengamati hilir mudik segala macam alat transportasi yang memenuhi canal, riak gelombang yang menghempaskan gondola akibat speed boat lewat, dan orang berpakaian loreng hitam atau merah mengayuh gondola untuk turis-turis yang rela mengeluarkan uang besar demi pengalaman bergondola.

From Rialto Bridge

Tarif Gondola ride sebenarnya diatur oleh pemerintah Venice, tapi sepertinya hukum supply-demand masih berlaku. Untuk tahun 2009 misalnya tarif resminya adalah 80 Euro untuk ride selama 40 menit sebelum jam 7 malam tapi aktualnya bisa mencapai 100 Euro. Anda mungkin bisa menawar tapi konsekuensinya rutenya akan diperpendek oleh gondoliernya. Tarif gondola adalah per gondola bermuatan 6 orang; jadi semestinya Anda bisa sharing dengan orang lain jika mau.

Gondola yang kami naiki dari dermaga di sebelah barat Rialto melewati bawah jembatan Rialto lalu belok kanan lewati canal-canal sempit di belakang rumah-rumah penduduk,  melewati rumah Marco Polo dan kemudian balik ke Rialto. Sebuah perjalanan pendek 25 menit yang mahal demi pengalaman langsung bergondola asli! Yang membuat gondola ride mahal adalah fakta bahwa gondolier sangatlah terbatas (hanya 430-455 orang), harus laki-laki dan lahir di Venice.

 Melewati  canal sempit yang hanya persis muat untuk 2 gondola berpapasan, kelihaian driver gondola terlihat di sini. Kadang gondolier menggunakan kayuh untuk mengarahkan gondola, terkadang juga menggunakan tolakan pada dinding-dinding rumah pembatas canal dengan tangan atau kakinya. Tidak jarang kami temui ujung tembok bangunan di canal tergores-gores yang pasti akibat gesekan dengan gondola.

Jika Anda beruntung Anda bisa mendapatkan tukang gondola yang mau bernyanyi untuk Anda. Melewati bawah Rialto Bridge membuat nyanyiannya bergema. Nyanyian yang lalu kami sahuti “lalalalala…..” menarik perhatian orang-orang di atas jembatan. Biarlah toh mereka tak kenal kami….Di lain tempat kami juga mendapati sepasang turis China yang dihibur oleh dua orang penyanyi yang menyanyikan nyanyian ala operanya Pavarotti.

Alternatif murah untuk menikmati gondola adalah naik traghetto (semacam perahu tambang di Indonesia) yang menghubungkan dua sisi canal yang tidak ada jembatannya. Sayangnya Anda traghetto seringkali padat dan penumpangnya harus berdiri.

Sebelum naik gondola kami sebenarnya baru saja puas menikmati makanan Italia langsung dari sumbernya. Di daerah Rialto ini Anda bisa menemukan restoran dengan harga bersahabat tapi dengan rasa yang juara. Cari saja restoran yang menawarkan self-service alias prasmanan. Makan siang berempat kami “hanya” mengeluarkan 45 Euro.

Dari Rialto kami melanjutkan perjalanan ke Galleria dell’Accademia. Accademia adalah galeri top Venice, yang juga salah satu yang terbaik di Italy. Galeri ini menampilkan perjalanan Venetian art dari abad 14 sampai 18. Sayangnya kami tidak boleh memotret di dalam galeri, pun galeri ini tidak ber-AC. Cukup gerah di panas summer saat itu.

Selesai di Accademia, masih ada dua jam sebelum kami harus bertolak ke Marco Polo airport. Kami memanfaatkannya untuk menyesatkan diri ke jalan-jalan sepi Venice dalam perjalanan dari Accademia menuju Piazzale Roma. Tidak sepenuhnya tersesat, hanya sedikit detour lalu balik lagi ke jalur utama, detour lalu balik lagi. Dalam perjalanan tersesat ini kami bisa menikmat Venice yang tidak terlalu turistik: rumah berjendela bunga, gereja-gereja kecil, canal-canal sempit nan sepi, maupun piazza-piazza (=square) dan campo-campo (= field) kecil.

At the less travelled Venice's backyard

Ujung dari perjalanan kami berakhir di Giardino Papadopoli, taman dekat Piazalle Roma. Taman ini cukup favorit di kalangan turis sebagai tempat melepas penat, tidur siang atau buat anak-anak bermain di playgroundnya. Sembari anak-anak bermain di taman, saya menyempatkan membeli tiket bus ke airport di counter ACTV di Piazalle Roma. Tiket bus ke Marco Polo airport yang berada di daratan Italy sekitar 12 km dari Venice dengan 5 km di antaranya jalur jalan penghubung Venice dan daratan Italy) hanya seharga 2.5 Euro untuk perjalanan selama 35 menit. Bus ACTV no.5 yang akan membawa kami bukan bus langsung ke airport melainkan bus umum yang harus berhenti beberapa kali di daerah perumahan atau daerah camping ground.

Dari Piazalle Roma kami balik ke area hotel untuk mengambil barang bawaan kami, melewati jembatan modern berdesain menarik. Sisa waktu sebelum boarding bus ke airport kami manfaatkan kembali untuk menikmati sisi sepi Venice di daerah Cannaregio (sebelah timur train station), menjilati ice cream di tepi canal, berbelanja terakhir souvenir dan pasta, dan menyaksikan kegairahan kaum tua local untuk pergi ke gereja.

Gone to non-touristic area to find the real Venice

Sampai pesawat budget-airline easyJet yang membawa kami mendarat di Paris Orly, airport di selatan Paris, kami masih tidak percaya kami sudah pernah ke Venice, baru saja. Dengan menaiki airport train (orlyval) kami menuju RER/metro station Antony untuk menaiki RER B ke Chatelet station yang kemudian disambung RER A ke La Defense, rumah kami selama di Paris.

Sewaktu transfer kereta “Ayah, kok badanku masih serasa goyang-goyang kayak naik gondola ya”, ujar anakku polos. Gubrak! 

Visiting Lumajang: Rewinding Memories

 

It’s like rewinding my childhood memories when I visited Lumajang for a week, 8-14 August 2010. A stretch of street I walked up to schol, my ex-house, elementary school, junior and high school, city square, and several favorite shops and street vendors that amazingly still exist.

Then a small reunion with my old-time mountain climber friends*. Shared stories about what they are doing now to make the ends meet: one owns a mobile phone repair and retail shop, one owns chicken farms, and one works for regency govermental office. They seems enjoying life in this small and peaceful town.

*During high school, I and my friends established a nature lover and mountain climbing group. As a group, with limited financial ability as high school students, we had climbed Semeru (the highest mount in Java) 3 times, Lamongan mountain 2 times, Argopuro mountain, Raung mountain, Arjuna and Welirang mount, Batok mount, each one time, all in East Java,  during high  school holiday. A week before I went to Lumajang,  I found a stack of my mountain climbing photo albums in Bandung. What nice memories they are.

The remaining days were to enjoy the first 3 days of Ramadhan in different atmosphere than in Qatar. Enjoying only-in-Ramadhan food, performing tarawih (Ramadan night prayer)  in nearby mosque, listening to a blasting sound of firecrackers, and sahoor wake-up call performed by village children.

One other important activity was photography hunting of variety of objects. Paddy fields with Semeru mount on the background, tree-lined streets, a quiet village street, or golden sunrays touching sugar cane leaves.

Mount Semeru (the highest mount in Java) and paddy field near my parent's house

Lumajang is a regency in East Java Province of Indonesia, located 145km SSE from Surabaya the capital. It took me 3-4 hours by bus to Lumajang from Surabaya owing to heavy traffic-ladden small provincial road. Lumajang is well-known for its pisang agung  (big banana), jackfruit, sugar cane farms and factory (inherited from the Dutch), tea farms, the largest Pura outside Bali, and its Semeru – the highest mount in Java – national park.

Bandung: Parijs van Java

Nicknamed Parijs van Java (Paris of Java) by the Dutch for its resemblance to Paris and European atmosphere back at the colonial times. Bandung also earned another nickname as Kota Kembang, literally meaning the Flower City since Bandung used to have a lot of flowers (Wikipedia).

Bandung's Dago Street - famous for its tree-lined street, factory outlets, art deco building, and entertainment

Not for nothing is this city dubbed as Parijs van Java or Flower City:

  • Well known for the universities. Institut Teknologi Bandung (ITB) to Bandung is Sorbonne to Paris.
  • Old-tree lined roads. Though Jalan Dago is not comparable to Champs Elysees but it is probably the most famous street in Bandung. Old trees line this street as in Jalan Riau, Jalan Cipaganti and their wings. You will see some art deco building along the streets although many are converted to business, mainly restaurant, factory outlet.
  • Fashionista of its residents, owing to affordable clothing yet stylish and up-to-date. It  doesn’t need to be that  expensive to be charming and good looking. With such a long list of factory outlet and distro, are you sure you’re dare to shop till drop?
  • Culinary heaven. Bandung is famous for its great place for gastronomic adventure. Creative Bandung people provide unlimited array of culinary selection: from sidewalk warung on the nooks of the city, to middle class restaurants offering both good food and atmosphere, and to alfresco dining offering magnificent view to Bandung from mountainous area north of Bandung.
  • Creative industries. Should I mention creative indie apparel brands from Bandung’s designers, to music bands, to new hotel concepts, to new culinary product inventions or “that creativity” (unofficially cracked softwares, downgraded games consoles, etc.)?
  • Beautiful landscape. Bandung is located at the altitude of 768m with the surroundings of lush and beautiful Parahyangan mountains makes the climate mild and pleasant
  • art deco and heritage buildings. About 650 heritage building colors Bandung and preserve Bandung as Parijs van Java.

Bandung now becomes my second hometown since I arrived 17 years ago for university. I remembered the first day in Bandung when I got off from a city minibus in Dago early morning, welcomed by its very cold temperature. It is rarely now to see that level of temperature. Average temperature is now ranging from 19 to 29 C. Still cold sometimes but not that cold like it was 17 years ago. I would say it is pleasant temperature.

Bandung has a special place in my place for:

–          I earned my bachelor degree in Bandung

–          I  had been broken hearted in Bandung

–          I had been falling in love in Bandung

–          I married in Bandung

–          My second son born in Bandung

–          My hard earned house is now in Bandung

Spending about 3 weeks in Bandung for summer escape, I tried to satisfy my mainly culinary and shopping experiences in addition to busy doing home improvement to my house, or completing all bank and financial related issues:

  • Tasted another Sundanese restaurant in Setiabudi and Bandung Milk Center or Bandoengsche Melk Centrale (Dutch) in Jalan Aceh. Total damage? Only between 15-20 Euro for 4-6 persons while the same price in similar restaurant in Paris I tried few weeks back was only enough for 1 person! How can that be so expensive? 
  • Tried almost every local food offered by street vendors: sate padang, sate kambing, batagor, baso tahu, mie pangsit, martabak, bakso, singkong keju, gado-gado, pecel, siomay, cendol, bubur ayam, surabi, gehu pedas.
  • Late night gastronomic hunting: bubur ayam PR (Jalan Asia Afrika), Perkedel (Stasiun Hall)
  • How about alfresco dining in Cihampelas Walk, strolling city’s oldies Bandung Indah Plaza & nearby Gramedia book store, and Gasibu, shopping at Istana Plaza, Bandung Super Mall, Pasar Baru Trade Center, Parijs van Java mall, and of course, endless factory outlets (FO)/distro (distribution outlet) mushroomed at Jalan Riau, Jalan Setiabudi and Jalan Dago (Ir. H. Juanda)
  • Join the crowd to Bandung Electronic Center (BEC) for computer, software (I don’t say pirated one J, do I? ), electronic, games and mobile stuffs.
  • Strolling Bandung’s old-tree line roads, Dutch style Braga road, and architectural jewels: Villa Isola, Savoy Homan, Grand Preanger, Aula Barat dan Timur ITB, Gedung Sate, Gedung Merdeka, Geological Museum
  • Excursions to Lembang, famous for its Tangkuban Perahu mountain, tofu and milk industries, fresh fruits and vegetables, family outdoor recreation center and high-end dining experience. Visited one of them: Kampung Gajah, an outdoor recreation center, tried the longest SkyRider in Indonesia. Also visited Maribaya and Curug Omas waterfalls, some 4 km from Lembang. Then, driving down from Lembang to Bandung through winding streets (that end up at Dago) offering breathtaking view of Bandung from above.
  • Family getaway to Taman Safari (Safari Park) in Cisarua, Bogor, 3 hours drive from Bandung.
  • Not enough? Sipping hot coffee from Fabriek Aroma amidst almost-everyday-rain at house terrace.

Despite its everlasting typical metropolitan issues like traffic jams, and population explosion related issues, Bandung is still one of Indonesia’s favorite destination. No wonder you will see Jakartans crowd Bandung during weekend or holiday and now Malaysia’s tourist on the rise, owing to Airasia’s direct flight to/from Kuala Lumpur.

And as a Bandung resident, the best way to enjoy the city is during weekdays, or using motorcycle for zigzagging traffic jam, and easy parking or driving a car during rainy days (when you’ll see sudden drop of motorcycle waves that clog the roads.

Wikitravel Bandung provides handy travel guide to Bandung.

Bandung in old times is well presented in  http://bandungsae.com/index.html  (credit to Guntur Gantara).

There must be something in Kuwait City

Pictures are in my facebook albums

Dari ketinggian menara pandang (viewing platform) berketinggian 120 m (dari keseluruhan 187m) di menara utama, kompleks Kuwait Tower, Kuwait City, saya jadi bisa melihat keseluruhan kota ini: Aqua Park yang berada di bawahnya, corniche sepanjang 20-an km, istana raja, area kota lama maupun bangunan pencakar langit baru, Liberation Tower, dan tentu saja Arabian Gulf (atau Persian Gulf seperti diklaim oleh Iran? Ah saya tak mau berdebat).

Tidak itu saja. Anda bahkan bisa melihat beberapa display foto yang menggambarkan kerusakan akibat serangan agresi Irak yang memicu timbulnya Perang Teluk tahun 1991. Terasa sekali aroma “kebencian atau kekesalan” di narasi penjelas yang menyertai setiap foto. Kuwait Tower menjadi target serangan Irak karena tower ini menjadi simbol Kuwait City. Untungnya, tower ini tidak runtuh, hanya beberapa ruangan yang porak poranda.

Untuk naik ke viewing platform, saya harus membayar 2 KD (Kuwaiti Dinar). Dengan harga segitu, saya juga mendapatkan gratis satu sandwich dan satu minuman gratis di viewing platform restaurant. Bagusnya adalah Anda bisa menikmati makanan ringan ini di meja bar sambil berdiri di atas lantai putar (revolving). Artinya Anda tak perlu beranjak dari tempat berdiri Anda untukmendapatkan pandangan 360 derajat. Satu putaran penuh memakan waktu 30 menit. Untuk mengguide pengunjung lokasi-lokasi penting diberikan informasinya di kaca pandang.

Viewing platform terletak di salah satu dari tiga tower dalam kompleks yang dibangun sejak 1975 dan dibuka tahun 1979. Satu tower digunakan untuk menyimpan air, dan satu lagi menara tak berbola sebagai pengendali kelistrikan dan lighting untuk semua tower. Tandon air bisa menyimpan sampai  4500 meter kubik air.

Pagi itu, Kuwait Tower hanyalah salah satu di antara sekian must-visit places di Kuwait City dalam rangkaian perjalanan transit singkat satu malam satu setengah hari ke Kuwait City, entour dari Istanbul ke Doha. Sebagai GCC resident, saya bisa mendapatkan visa-on-arrival di bandara Kuwait City. Untuk 4 orang, kami harus membayar 24 KD. Selepas urusan VoA selesai, saya segera menuju ke konter Avis untuk mengambil order mobil sewaan yang saya sudah pesan beberapa hari sebelumnya. Di area yang sama, ada beberapa konter rental mobil lainnya seperti Hertz, Budget atau local company.

Lalu meluncurlah kami menggunakan Chevrolet Caprice menyusuri jalanan ring road dari airport sebelum belok ke ujung timur-selatan corniche road (or Gulf Street). Sebelum mampir ke Kuwait Tower, kami sempat mengunjungi pantai Messila yang sayangnya bau amis, Hard Rock Cafe dan Green Island sekedar untuk photostop. Yang terakhir ini adalah taman pulau buatan yang dihubungkan dengan Gulf Street dengan jembatan kecil. Di dalam pulau adalah jajaran pohon, taman dan tempat duduk untuk menikmati Arabian Gulf. Dari GoogleEarth, Green Island keliatan menarik, tapi setelah didatangi tempat ini tidak cukup menjanjikan untuk dieksplore lebih jauh. Terlihat kalau tingkat perawatan taman ini kalah dengan taman sejenis di Doha.

Setelah check-in di Hotel Ibis Samiya*kami melepas lelah sejenak di kamar, recharge sebelum jalan kembali untuk menuntaskan must-visit places – crash program gitu lho….  (*hotel bisnis bintang tiga ini cukup bagus dari sisi harga, lokasi, dan hmmm sarapannya. Tarif weekend lebih murah, dan kami bisa menggunakan kamar yang sama untuk mengakomodasi 2 anak di bawah 12 tahun, meskipun tidak ada tambahan bed, free of charge).

 Next visit adalah The Scientific Center Kuwait ( http://www.tsck.org.kw/en/index.asp ) di ujung timur corniche, hanya beberapa ratus meter dari hotel kami dan Hard Rock Cafe.Hari Jumat itu, Scientific Center mulai buka jam 2 siang. Dalam kompleks ini terdapat 3 lokasi layak-kunjung: Discovery Place, Aquarium dan IMAX. Kami memutuskan untuk mengunjungi Discovery Place dan Aquarium dengan menggunakan tiket combo seharga 4.25 KD (dewasa) dan 3 KD (anak-anak). Kalau Anda memutuskan untuk mengunjungi ketiganya, Anda bisa melakukannya dengan lebih murah menggunakan tiket combo 6 dan 4 KD untuk dewasa dan anak-anak.

Discovery Place adalah inti Scientific Center. Ini tempat di mana pengunjungi bisa mengeksplore dan memahami science dalam format yang mencerahkan. Anak saya yang tertua malah meminta dia ditinggalkan di area itu sementara kami bertiga bergerak ke area Aquarium. Oh anakku terkena racun science center, semenjak dia seringkali kami eksposed ke scientific center di mana itu ada seperti  di Kota Baru Parahyangan Bandung, Singapore Discovery Center dan Science Center di Singapore, Petrosains di Kuala Lumpur, dan nantinya Cite de Science di Paris, dan NeMO di Amsterdam.

Area Discovery Place tidaklah terlalu besar tapi flow dan varietasnya cukup lengkap, dengan tidak ketinggalan informasi mengenai penambangan minyak.

Hal yang sama juga di kompleks Aquarium yang tidak terlalu besar, tapi cukup menghibur. Di area foyer, pengunjungi bisa melihat koleksi sumbangan Sheikh Sabah antara lain, formasi batuan, desert rose besar., dan benda antik khas Kuwait. Di Aquarium ini pengunjung bisa melihat representasi 3 lingkungan utama di Timur Tengah: gurun pasir, laut dan tepi pantai (coastal). Yang ditata menarik adalah coastal section dengan ruang terbuka beratap tembus pandang dengan tanaman asli. Seperti halnya Aquarium di banyak tempat, ikan hiu dan ikan pari menjadi atraksi utama. Dua ikan ini ditampung dalam akuarium besar berkapasitas 1,5 juta liter air.

Di pelataran belakang scientific center Anda juga dapat berfoto di depan dhow, dengan lamat-lamat background Kuwait Tower.

Dari Sciencitic Center, kami menuju Hard Rock Cafe untuk membeli shot glass (tuh kan!) dan kemudian ke The Avenue (http://www.the-avenues.com/home.html ), mall terbaru dan termodern di Kuwait City. Masuk ke mall ini serasa segar, baik karena bangunannya, dan bukaannya, luasnya area pejalan kaki di dalam mall, maraknya pepohonan di dalam mall, belum lagi tata parkir yang prima (jangan dibandingkan dengan City Center Doha deh….). Tujuan utama ke mall ini: benchmarking ……alesan ya, padahal mau shopping di IKEA…hehehehe.

Di tengah shopping, kawan lama di Chevron yang sekarang bekera di Chevron Kuwait mengirim pesan singkat yang intinya memastikan tempat bertemu di The Avenue. Di akhir pertemuan kawan saya menawari saya untuk berkunjung ke camp Chevron di Mina Saud. Sayang waktu kami singkat sehingga besoknya pun kami tidak bisa mengunjungi camp. Camp ini berjarak 50-an km dari Kuwait City.

Besoknya selepas sarapan kami menyusuri kembali Gulf Street sampai ke Kuwait Tower, lalu mengarahkan mobil ke Souk Sharq (http://www.souksharq.com/ ). Souk ini adalah water-front mall, di belakangnya Arabian Gulf, di depannya marina tempat parkir yacht dan boat. Yang menarik adalah jam air di atrium mall. Tidak ada agenda khusus di mall ini kecuali ambil beberapa foto lalu segera memacu kembali mobil kami ke area kota lama, melewati istana raja, dan masjid besar. Liberation Tower adalah tujuan berikutnya. Sayangnya tower ini hanya dibuka tanggal 25 February, National Day, jadilah kami hanya berfoto di bawah kaki tower ini.

Pesawat kami akan take off sore jadi kami masih punya waktu tersisa untuk melihat dan mendapatkan sesuatu di Kuwait City. Maka berkelilinglah kami menjelajahi ring road, masuk ke jalan-jalan kecil, kembali ke ring road, begitu seterusnya sampai tiba waktu mengembalikan mobil dan checkin di airport.

 Maka berakhirlah perjalanan transit saya dari Istanbul ke Doha di kota ini pada 8-9 April 2010.

 Kuwait mungkin bukan tujuan wisata utama bagi para penduduk di Timur Tengah, tapi ini yang membuat saya penasaran. Pasti ada sesuatu di Kuwait untuk turis penasaran* seperti saya. Dan memang ada sesuatu di Kuwait, setidaknya buat saya. (*temen saya bilang apa maksudnya bisa melengkapi koleksi shot glass Hard Rock sebagaimana yang saya lakukan ke setiap kota di mana ada HRC? Saya hanya tertawa. Penasaran yang saya maksudkan adalah daftar Been There Done That yang harus saya lengkapi mumpung saya masih tinggal di Qatar. Daftar ini antara lain mencakup mengunjungi semua negara GCC. Dengan kunjungan ke Kuwait ini maka hanya Bahrain yang belum saya kunjungi. Insya Allah tahun ini atau tahun depan).

Jika ada yang bertanya kepada saya apakah Kuwait worthed untuk dikunjungi? Saya akan menjawab iya, tapi bukan sebagai tujuan utama liburan Anda, atau tempat di mana Anda menghabiskan seluruh masa liburan Anda. Cukuplah Anda kunjungi kota ini dalam perjalanan transit Anda atau weekend break. Saya yakin ada sesuatu buat Anda di sana!